Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2016

Sakit


           Kamu bagaikan permata di tengah – tengah bongkahan emas. Berbeda dari yang lain, setidaknya di mataku, kau adalah yang paling bersinar, entah apa yang membuatku tertarik padamu. Sejak kapan ku memerhatikanmu, melihat berbagai macam ekspresi yang telah kamu ciptakan. Dengan ajaibnya sudah membuatku rindu bila kau tidak ada di pengawasanku.

Kamu datang bagaikan kilat, bagaikan rintik hujan yang turun ke tanah, terus menerus tanpa henti. Menghancurkan dinding pelindungku, membawaku lari dari batas amanku. Mengajakku pergi ke istanamu, memperlakukanku bagaikan tuan puteri. Entah apa status kita, apakah hanya sebatas titik koma yang bisa berhenti kapan saja, atau ini semua hanya khayalan mimpiku. Jika begitu, biarkan aku tertidur dalam jangka yang lama, karena aku masih ingin disini mendengarkan ocehanmu seperti yang biasa aku lakukan.

Berbagai macam cerita yang kamu lontarkan, suara berat yang kamu latunkan, membuatku terpaku di tempatku berada. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku masih ada disini? Kenapa aku masih mendengarkan ceritanya yang bahkan tidak terlalu menarik untuk didengar. Namun, bibir ini selalu mengeluarkan tawa secara otomatis, mata ini pernah berurai air mata ketika kamu sedang bersedih. Pipi ini akan memerah ketika kamu melontarkan gombalan – gombalan kosongmu. Aku akui, kamu sudah  berhasil mengambil semuanya.

Remang – remang lampu mempermudahku untuk melihat wajahmu dengan jelas, aku ingin sekali berterima kasih kepada Tuhan setiap saat ketika aku bisa melihat kedua manik matamu yang membuatku semakin rindu. Kamu didepanku, sedang menyeruput segelas kopi dengan aroma yang bisa tercium oleh indera penciumanku. Wajahmu seakan menunjukkan bila kamu menikmati minuman yang kamu minum, terlihat dari kedua matamu yang menatap segelas kopi itu dengan hati – hati, menyukai tiap tegukkannya sehingga menimbulkan ulasan senyum yang selalu aku tunggu setiap hari. Aku terkikik ketika tanpa aku sadari, aku iri pada segelas kopi ekspresso.

“Hmm, kamu kenapa?” tanyamu.

Aku menggelengkan kepalaku, “Tidak, tidak apa – apa. Err- Tumben sekali kamu mengajakku kesini?” Kedua pipiku memerah sembari melihat kearah kedua matanya. Memujanya secara diam – diam. Ya, kami sedang berada tempat yang menurutku romantis, di sebuah kafe yang bisa membawa kita ke masa lalu. Dengan berbagai macam bunga dan warna menghiasi tiap sudut ruangan. Ditambah, kamu mengenakan pakaian semi formal yang membuatmu semakin menarik. Tidak, kamu sempurna walaupun kamu mengenakan pakaian yang biasa kamu kenakan disaat kamu sedang berada di rumahmu.

Memoriku membuatku ingat kembali kejadian dimana kamu menungguku dirumahmu, dengan tampilan yang berantakan, sedangkan tanganmu tidak bisa lepas dari tanganmu. Saat itu aku sedang bersembunyi di balik bangunan, memerhatikan ekspresi khawatirmu dengan telepon genggam yang senantiasa menempel di telinga kananmu ketika hari sudah semakin sore. Lalu, kamu langsung beranjak dari posisi nyamanmu, memasuki rumah kontrakkanmu dan keluar dengan setelan baju pergi khasmu. Kaos putih dengan garis biru, dipadu oleh celana panjang bewarna biru tua dan sepatu kets kesukaanmu

Ketika kamu hendak menaiki sepeda motormu, aku muncul dihadapannya. Ia menoleh kepadaku dengan mata yang melebar namun segera ia menunjukkan senyum andalannya. Senyum lebar ditambah dengan pelukkan hangat.

“Aku pikir kamu kenapa – kenapa, seharusnya aku yang mengantarkannya sendiri kerumahmu.” Kata – katamu seakan menunjukkan kekhawatiran yang mendalam, suaramu semakin mendalam, semakin membuatku berharap lebih.

Kamu menundukkan kepalanya, sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kedua tangannya menangkup wajahku dengan lembut. “Kau tahu, aku mendengar berita bila ada seorang kriminal yang melarikan diri ke daerah ini-“ Kedua matanya menghangat,hampir membuatku salah paham bila ada cinta disana. “Dan tolong angkat telepon dariku,” lanjutnya sembari melepaskan tangkupannya.

Segera aku tangkis semua khayalanku, dengan wajahku yang masih menghangat, kedua tanganku berusaha menyalakan telepon genggam milikku. Betapa terkejutnya aku ketika kamu meneleponku berkali – kali, memenuhi hampir dua halaman panggilan yang tidak terjawab. Dan mendapatkan banyak pesan yang tidak terjawab olehmu. Oh tidak, jangan buatku berharap lebih jauh. Tapi rela kah aku bila melihatmu dengan yang lain? “Jangan buat aku khawatir lagi-“ Kamu memelukku untuk kedua kalinya hari itu, menjalarkan kehangatan, membuatku terlindungi dari berbagai macam bahaya. Membuatku semakin terobsesi olehmu.

“Meysa”

“Meysa”

Suaramu berhasil menyelamatkanku dari lautan memori, pipiku kembali merona terlebih sehabis aku mengingat kenangan indah denganmu. Bila kita nanti akan berakhir, aku akan lebih memilih bertahan seperti ini. Biarkan hanya aku yang jatuh cinta, anggap aku bodoh, namun perasaan yang kini kurasakan seakan membutakanku akan kenyataan.

“Kamu hari ini aneh deh,” kekehmu. “Penasaran ngga kenapa aku menyuruhmu untuk datang?” Kedua matamu berbinar melihatku, membuatku terkikik akan tingkahnya yang bersemangat kini. Aku menyukainya, tiap jengkal ekspresimu. Tidak ada yang tidak aku sukai.

Kamu menungguku untuk menjawab pertanyaannya dengan senyuman lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. Hey, bolehkah aku berharap lagi. Bila kamu mencintaiku, lebih dari yang pernah kamu sebutkan. Ya, cintai aku sebagai perempuan. “Tidak, memangnya kenapa?”

Kamu mengeluarkan sebuah buket bunga bewarna merah marun. Jantung ini berdegup kencang ketika ia menghirup aroma kumpulan bunga mawar itu. Wajahku kembali memanas, mungkin lebih panas dari yang biasa. Bila aku tahu saat ini akan datang, aku akan memakai pakaian yang lebih pantas, tidak seperti yang aku kenakan, kemeja bewarna putih yang dipadu oleh celana pensil bewarna biru muda.

“Kamu tahu, aku sedang menyukai seseorang. Seseorang yang sebenarnya sudah aku perhatikan sejak dulu.” Kamu mengatakannya dengan penuh penghayatan, penuh cinta membuat bibirku mengatup. “Seseorang yang entah kapan aku perhatikkan sejak lama..” Kamu kembali mendongakkan kepalamu, kedua pipimu yang sedikit merona. Aku berusaha mencari kebohongan di manik matamu, tapi tidak. Apakah kamu bersungguh – sungguh?

Kamu segera menarik tanganku sebelum aku berhasil mengeluarkan kata – kata yang sangat ingin aku keluarkan, ‘Aku mencintaimu, sudah lama dan kini kamu sudah membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.’ Namun tidak, sepertinya kata – kata itu tidak akan bisa terucap. Karena kamu membawaku kehadapan seorang perempuan dengan paras yang sangat cantik bagaikan tuan puteri sungguhan. Membuatku merasa hanya sebagai tokoh tambahan, atau mungkin orang kedua di tengah – tengah tokoh utama. Tokoh yang paling di benci oleh pembaca.

Kamu bersimpuh sedangkan kedua tanganmu menggenggam erat buket bunga mawar itu dihadapannya. Aku tahu kamu sedang gugup, aku tahu bahwa kamu menatap perempuan itu dengan penuh cinta. Aku tahu semua, semuanya. Sudah 10 tahun lebih kita bersama, membuatku yakin bila hanya aku yang tahu kekurangan maupun kelebihanmu selain keluargamu dan Tuhan.

“Arlyn, maukah kamu- Menjadi kekasihku?” Kamu mengucapkannya tanpa mengetahui, bila perasaanku sudah hancur menjadi berkeping – keping sekarang. Rusak semua rencana cerita yang ingin aku lakukan denganmu. Apakah selama ini kamu tidak merasakan perasaan apa yang aku harapkan selama ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mencintaimu dalam diam yang selama ini aku lakukan?

Arlyn, perempuan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Menimbulkan perasaan senang yang terlukis jelas di wajahmu. Orang – orang disekeliling mereka menepuk kedua tangannya sembari menggoda pasangan baru hari ini, dan ada yang memberikan mereka selamat. Aku termasuk orang – orang tersebut, memberikan tepuk tangan dan kata – kata yang bahkan tidak ingin aku lontarkan.


Oh Tuhan, bila mana Engkau tahu hari ini akan datang. Mengapa Kamu membiarkan aku merasakan jatuh cinta? Perasaan yang dulu aku anggap sebagai omong kosong, karena banyak sekali orang – orang yang terpuruk oleh ini. Dan dengan bodohnya aku merasakannya, sesuatu yang mungkin bisa menutup pintu hatiku untuk jangka waktu yang sangat lama. 

Minggu, 11 September 2016

GAME OVER

deleted later
too much dramas

GAME OVER
By Suryarini D
            Cahaya jingga menerobos masuk melalui sela sela gorden, meninggalkan kesan manis dari langit sore hari itu. Terlihat jarang orang-orang yang melewati gerbang, karena jarum jam sudah menunjuk kearah lima. Angin berhembus sembari memainkan anak anak rambut Alea, ya, gadis itu masih berdiam di sebuah kelas dengan tatapan kosong. Ia sesekali menghembuskan nafas berat dan menenggelamkan dirinya dibawah alam sadarnya. Mengkhayal lebih tepatnya, dimana ia bisa memikirkan bahagianya ketika ia bisa mendapatkan apa yang ia mau. Keinginannya mungkin bisa ia impikan, tetapi sulit ia gapai.
            Decitan pintu kelas terdengar memekikkan gendang suara Alea, ia tanpa sadar langsung menatap kesal siapa gerangan yang membuka pintu belakang kelasnya.
            Siera.
            Seorang gadis percaya diri dengan rambut hitam bergelombangnya, matanya memicingkan secara tajam kearah Alea dengan jengah. Ia berdiam ditempat sembari mengatur nafasnya, lalu ia langkahkan tungkai kakinya dengan nada cepat kearah gadis pengkhayal itu.
            “Alea! Gue sama Arsy nyariin lo, eh lonya malah disini,” cercanya. Gadis didepannya hanya bisa terkekeh pelan sembari menepuk-nepuk tempat duduk disebelahnya. “Duduk, Gue tadi lelah gara-gara abis dari klub ‘pencinta binatang,’ tadi gue dapet giliran piket buat ngasih makan.” Siera hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, ia mendongakkan kepala kearah pintu yang kembali terbuka. Garis mulutnya tertarik keatas ketika menyadari keberadaan sahabatnya yang lain, Arsy.
            “Loh kok kalian malah santai disini, Aku tadi nyariin sampai gedung sebelah loh,” kata Arsy sembari diikuti dengan mencebik mulut. Siera terlihat gemas melihat sahabatnya yang sedang merungut kesal diambang pintu. Tidak butuh lama, Arsy sudah menduduki salah satu tempat duduk didepan Siera. “Jadi, kita pulang?” tanyanya polos. Alea menganggukkan kepalanya dengan malas.
            “Ya- Tapi, kita harus beli bahan-bahan makanan buat nanti malam.” Siera menyambar tas punggungnya yang bewarna merah marun dan beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan kedua sahabatnya juga melakukan hal yang sama. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju koridor sekolah.
            Arsy tiba-tiba memegangi perutnya, mukanya berubah pucat pasi dengan sorotan mata yang menyiksa. Siera yang cepat menyadari jika sahabatnya sedang kesakitan tanpa sadar langsung membawa lari Arsy kearah ruangan UKS.
            “Dih ditinggal lagi.” Alea membenarkan selempangan tas punggungnya dan terus berjalan hingga ia mendengar seseorang memanggil namanya. Namun, ketika ia melihat kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduknya merinding, suaranya lagi-lagi terdengar menggelitik organ pendengarannya. Suaranya semakin terdengar ketika ia berusaha berjalan cepat lurus kedepan. Entah mengapa kakinya berhenti didepan pintu di sebuah ruangan yang tidak mempunyai ventilasi. Ia tidak tahu pasti mengapa sekolahnya mempunyai ruangan tersebut, banyak yang bilang bila ada kesalahan dalam pembangunanya. Jadi ruangan ini memang sengaja terbengkalai.
            “Alea-“ Nafasnya tercekat ketika namanya kembali terdengar. Suara itu seakan memaksanya untuk membuka pintu ruangan tersebut, tetapi tidak berhasil. “Alea-“ “Alea-“ “Alea-“
            Ia tidak tahan, ingin rasanya berlari dengan cepat meninggalkan sekolah ini, dan berlindung dibawah selimut seperti yang ia lakukan ketika suara petir terdengar memekikkan telinganya.
            “Alea-“ Badannya tanpa sengaja tersungkur kebelakang karena ia merasakan sentuhan di pundakknya. Matanya tertuju ke arah manik mata sahabatnya, Siera. Arsy yang memang keadaanya sedang lemah hanya bisa menatapnya dengan tatapan lelah. “Kamu kenapa?”
            Alea kembali menatap pintu yang tepat dibelakangnya sekali lagi, memastikan jika ia tidak lagi mendengar namanya dipanggil secara memilukan. Hanya gelengan kepala yang bisa ia tunjukkan kepada Siera, seakan ketakutan sudah membungkam mulutnya.
            Siera menyempatkan untuk menghela nafas sebelum ia menggapai tangan Alea untuk segera pergi dari sekolah yang dianggap ‘penjara’ bagi kebanyakan siswa-siswi.
            Di perjalanan pulang, mentari seakan meredupkan cahayanya sedangkan rembulan sudah muncul dengan tidak sabar ingin mendapatkan perannya hari ini. Alea mengadahkan kepalanya memerhatikan langit sembari menetralisir ketakutannya tadi.
            Seseorang memanggilnya, tapi mengapa? Pikirnya
            “Le, Lo ngga apa-apa kan’ makan bubur hari ini? Badannya Arsy panas banget, maagnya dia kambuh. Tadi sih dia udah minum promag, tapi tetep aja Gue ngga yakin dia bisa makan berat macam burger gitu,” kata Siera panjang lebar. Alea hanya menatap sahabatnya dengan tatapan sendu, didepannya ada perempuan yang bisa dikatakan sempurna oleh orang-orang disekitarnya. Siera mempunyai kekayaan, kecantikan, kepintaran, dan hal-hal lain yang Alea tidak punya maupun yang tidak ia kuasai. “Apapun boleh, yang penting makan, “ balasnya sembari memecah suasana.
            “Yee, Lo mah enak tinggal makan. Bantu kek sekali-sekali,” kata Siera dengan sarkastis. Arsy yang melihat argument yang dibuat oleh kedua sahabatnya hanya bisa terkekeh sembari sesekali memegangi perutnya. Perih katanya.
            Tidak terasa langkah kakinya sudah membawa mereka ke sebuah toko modern yang menjual bahan makanan. “Kalian tunggu sini ya, Le, jaga Arsy.” Jika Arsy sudah mengeluarkan titah, berarti hal itu tidak boleh dibantah sehingga Alea menganggukkan kepalanya dengan cepat. Garis bibir Siera tertarik keatas sebentar sebelum ia pergi meninggalkan dua perempuan itu dibawah pohon besar.
            “Sy, Lo masih sakit?” tanya Alea. Arsy menganggukkan kepalanya sembari menunjukkan di skala mana ia masih bisa merasakan sakit tersebut dengan tangannya. Alea membalasnya dengan anggukkan kepalanya. “Kenapa? Kamu sakit juga?” Arsy meletakkan punggung tangannya dikening Alea, dan meletakkan punggung tangannya yang satu lagi di keningnya. “Hmm- Ngga kok, lebih panasan aku,” kekehnya pelan.
            “Ale-“ sahut Arsy. Alea kembali mengarahkan wajahnya kearah Siera. “Apa yang Kamu pikir tentang Siera?” tanyanya tiba-tiba. Kedua mata Alea membulat mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dicetuskan oleh Arsy. “Ya- Seseorang yang sempurna dimataku,” balasnya dengan nada yang pahit.
            Arsy seakaan tidak menggubris perasaan yang sedang Siera samarkan. Terlihat jelas akan kecemburuannya terhadap sahabatnya sendiri. Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan pertanyaannya, “Kamu ingin menjadi dia?” Pertanyaan itulah yang mengejutkan Alea, sahabatnya yang lugu ini tidak pernah menjadi provokator.  Namun sekarang, ia merasa terancam. “Siapa yang tidak ingin menjadi dia? Seseorang yang punya segalanya.”
            Ia menatap orang yang disebelahnya dengan raut  wajah kemenangan, “Dan kita seakan seperti sampah.” Memori buruk Alea kembali bermunculan di kepalanya, kenangan ketika ibunya tidak pernah puas akan apa yang putrinya dapat, selalu membandingkannya dengan Siera.
            ‘Ahh- Andai aku punya putri seperti Siera.’
            ‘Kenapa kamu bukan Siera?’
            Alea memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit, ia harus berterimakasih kepada ibunya karena telah membuatnya pergi ke psikiater. “Gue mohon jangan bahas itu,” ketusnya. Perasaannya sekarang sudah bercampur aduk, antara marah dan takut. Sedangkan lawan bicaranya terkekeh pelan hingga Siera datang menyelamatkan keadaan.
            Alea tidak munafik jika ia tidak baik baik saja sekarang, selama perjalanan pulang ia tidak mendengarkan percakapan yang dibuat oleh kedua sahabatnya. Mereka asyik beradu pendapat atau apalah itu, Alea sedang tidak ingin peduli.
            “Alea!” Sahutan Siera mengembalikan Alea dari khayalannya, sehingga ia baru sadar jika Siera sudah membuka pintu rumahnya. “Lo kenapa sih?” tanya Siera jengah. Tidak seharusnya Alea membungkam mulutnya selama perjalanan pulang, karena hanya dia yang bisa membuat perjalanan pulang seakan menyenangkan. Namun Alea tidak sadar akan kelebihannya itu. Ia hanya peduli akan apa yang tidak ada di dirinya.
            Alea menggaruk tengkuknya lalu menggelengkan kepala sembari melangkahkan kaki memasuki rumahnya. Siera sudah tidak sabar ingin berkutat dengan bumbu dapur, tangannya gatal ingin menciptakan hidangan untuk malam ini. Arsy yang sesekali merasakan sakit pada perutnya hanya bisa menatapi layar televisi dengan tatapan kosong. Alea yang langsung bergegas menuju kamarnya, membuang semua perlengkapan sekolahnya diatas kasur berukuran sedang, lalu merebahkan diri disebelahnya.
            Ia meringkuk seperti bayi, kepalanya mengingat kembali tentang kejadian yang telah ia rasakan. Terdengar rintik hujan yang sedikit demi sedikit menjadi lebat, diiringi oleh suara petir yang memekikkan telinga.
            Ini hari buruk Gue, batinnya.
            Ia menutup tubuhnya tanpa kecuali dengan selimut tebal. Kebiasaan yang ia lakukan bila ia merasa takut. Hingga mimpi sudah mendatanginya sekarang.
            Cahaya putih halus memaksa masuk dari jendela kamar Alea, suara alarm yang keras dan terdengar menyebalkan membangunkan Alea. Ia mengacak-acak rambutnya, kemudia ia bergegas ke kamar mandi karena dia ingat jika ia belum membersihkan tubuhnya semalam, terlihat jika ia masih menggunakan rok abu-abu dan kemeja putihnya.
            Sedangkan Siera sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua sahabatnya termasuk dirinya. Pancake dengan siraman sirup khusus yang sengaja ia buat sebagai sirup andalannya. Ketika ia puas dengan apa yang ia buat, ia meletakkan apa yang ia buat diatas meja makan. Ia mendapati Arsy yang sudah berseragam rapih, dan Alea yang sedang memasang dasi sekolahnya.
            “Le, Lo tadi malam ketiduran ya?” tanya Siera yang dibalas dengan anggukan. Siera mendesah pelan dibuatnya, “Lo sekarang makan lebih banyak ya? Ohiya vitaminnya juga lo harus minum, gue ngga mau ngerawat dua orang sakit sekaligus. “
            Arsy terkekeh pelan sebelum ia memasukkan suapan pertama pancake buatan Siera. “Lo bilang begitu tapi nanti juga lo rawat juga,” goda Alea. Siera merengut sebentar sembari menikmati sarapannya. Sekitar sepuluh menit kemudian mereka sudah menyelesaikan hidangan mereka dan bergantian mencuci perlengkapan makan yang mereka pakai. Menyisakan Alea dan Arsy didepan wastafel dapur.
            “Le, Kamu harus tahu, kalau Siera sudah merebut duniamu.” Alea langsung menghentikan aktifitasnya mencuci piring, ia memilih untuk menengok kearah Arsy yang sudah mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan. “Maksud Lo apa?” Alea merasa dirinya terancam ketika Arsy sudah mengeluarkan seringaiannya.
            “Siera jadian dengan Rony kemarin, ditaman, pukul empat sore,” balas Arsy. Nafas Alea tercekat ketika ia mengingat kejadian buruk kemarin, bukan, bukan disaat ia mendengar suara yang memilukan itu, atau disaat ia mengingat perkataan hina ibunya. Bukan, namun kejadian yang membuatnya termenung di sebuah kelas dengan tatapan sendu. Seseorang yang ia kira sebagai belahan jiwanya sekarang sudah menjalin hubungan yang serius dengan Siera.
            Air matanya yang sudah berada di pelupuk mata, jatuh mengenaskan mengenai piring yang sudah ia cuci bersih sebelumnya. Arsy yang melihatnya bergegas mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap air mata yang berada di sudut mata Alea. “Kamu tahu, akan sangat mudah bila ia tidak ada,” bisiknya.
            “Kalian ngapain? Loh Alea kamu kenapa?” tanya Siera dengan khawatir. Lagi lagi Alea menggelengkan kepala dibuatnya. Siera mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti, ‘badai apa yang telah menimpa sahabatnya?’
            “Ayuk ke sekolah, nanti telat jika ngga buru-buru!” sahut Arsy. Mata Siera melihat dengan cepat kearah jam dinding yang tidak jauh dengan dapur, mimik wajahnya berubah panik seketika, “Ayo buruan! Aduh udah jam segini aja.” Siera menarik kedua tangan sahabatnya dengan satu tarikan, mengajak mereka untuk berlari bersamanya.
***
            Tepat ketika mereka melangkahkan kaki di dalam lingkungan sekolah, gerbang yang didesai secara otomatis, langsung tertutup tepat disaat jarum jam mengarah ke angka tujuh. Kejadian yang hampir saja membuat mereka tidak bisa sekolah hari ini membuat mereka bisa bernafas lega. Banyak siswa-siswi terutama anak kelas sepuluh yang belum terbiasa sedang meracau kesal karena gerbang sudah tertutup rapat.
            Siera menggiring kedua sahabatnya kearah kelasnya masing-masing. Dan tidak lupa wejangan singkat untuk semangat demi melalui jadwal sekolah hari ini. Alea sadar jika sudut bibirnya tidak bisa diajak kompromi sehingga mengundang kekhawatiran Siera. “Lo kenapa, Le? Lo dari kemarin kayak aneh gitu. Gue kan’ ngga ngerti,” kata Siera. Alea kembali menggelengkan kepalanya mantap dan membuat Siera mencebikkan mulutnya. “Haa- Yaudah, Gue ke kelas gue ya? Kalau mau cerita langsung ke kelas aja, ngga deh- Nanti gue kesini buat maksa Lo cerita. Lo kan’ ngga bakal cerita kalau ngga dipaksa, “ kekehnya. Alea hanya menatapi sahabatnya dengan tatapan datar. Siera melambaikan tangannya keudara dan dibalas dengan diamnya Alea.
            Ia seakan tidak mengikuti pelajaran, tubuhnya boleh duduk di sebelah jendela sembari melihat lurus kedepan. Namun pikirannya sibuk beradu siapa yang harus ia pilih, ego atau sahabatnya? Tidak terasa bel pulang sudah bordering, Alea tidak menyadari jika ia tidak bergerak sekalipun dari tempat duduknya. Ia menatapi langit sore dan bangku-bangku yang ditinggal oleh pemiliknya. Iya, hanya ada dia yang ada disana.  Tubuhnya bangkit dari tempat sebelumnya, tangannya menggapai tas punggungnya dan kakinya menuntunnya untuk pergi kearah yang tidak seharusnya.
            “Alea-“ Suara itu terdengar lagi, memanggilnya dengan nada yang pilu. Perasaan yang yang mendalam, kecemburuan yang mendominasi. Suara itu kembali menuntunnya ke ruangan pengap itu. Ruangan yang belum pernah bisa ia buka. “Alea-“ Suara itu berhenti saat itu, matanya tertuju ke sebuah kerdus berisi benda tajam yang membuat pikirannya kembali beradu.
            ‘Mati! Mati! Mati!’
            “Ingatlah siapa yang telah membuatmu menderita.” Pikiran Alea tiba tiba kosong, ia seakan sudah diperalat oleh suara tersebut, oleh egonya sendiri. Tangannya mengenggam sebilah pisau, pisau kecil yang sangat mematikan. Matanya sibuk mencari-cari orang yang ia anggap sebagai parasit. Siera. Siera. Siera.
            “Siera..” Alea memanggil nama sahabatnya yang sedang membelakangi dirinya. Tidak perlu menunggu lama, Siera berbalik dengan senyuman lebar yang menghilang seketika. Siera melihat sebilah pisau yang Alea genggam dengan erat. “Alea, apa yang kamu-“
            “Kau membuatku menderita. Selama ini. Dan kau tidak sadar itu. “ Pisau itu sudah tertancap sempurna menembus jantung sahabatnya. Alea menarik kembali pisau yang sudah menyatu dengan Siera. “Alea-“ Suara itu, Siera memanggilnya untuk yang terakhir kali, terdengar seperti suara penyesalan yang membuyarkan egonya. Alea kembali, namun sahabatnya sudah tidak ada. Darah merembes kemana-mana, mengotori baju, lantai hingga kulitnya. Nafas Alea seakan tercekat melihat fenomena yang ia ciptakan. Begitu mencekam hingga ia tidak bisa mengeluarkan satu katapun.
            Ia harus lari, tidak. Apa yang harus ia lakukan? Tanyanya dalam hati.
            “Alea-“ Suara itu kembali terdengar. Namun ia tidak lagi sanggup berdiri, ia seorang pembunuh, ia membunuh sahabatnya sendiri. Ia menutupi kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Berharap ia tidak lagi kembali melukai orang lain.
            “Alea, kemarilah.” Suara itu, kembali menghipnotisnya. Badannya seakan berdiri sendiri, berjalan mengikuti suara yang lagi-lagi kearah ruangan tanpa ventilasi tersebut. Tangannya menggapai gagang pintu, berusaha membuka pintu yang sebelumnya tidak bisa ia buka, namun sekarang keadaan berbeda. Pintu itu terbuka dengan mudah, menampakkan ruangan kosong tanpa benda apapun didalamnya.
            “Alea- Alea- Apa yang telah kamu lakukan?”
            “Kamu membunuhnya, ia tidak salah apa-apa”
            “Kamu adalah parasit sebenarnya”
            “Kamu yang harus enyah”
            Kedua mata Ale membulat, kenangan kenangannya dengan Siera terlihat dengan jelas di kepalanya, Siera yang selalu ada ketika ia jatuh, bahagia, dan hanya dia yang bisa membuatnya seakan lebih mudah. Air matanya merembes keluar, membasahi kedua pipinya yang sekarang sudah memerah. Matanya tertuju ke sebuah sebilah pisau yang sudah mengubahnya menjadi monster sesungguhnya, bukan, itu hanyalah sebuah alat, dirinyalah yang mengubahnya menjadi monster.
            “Tunggu apalagi, Alea?” Suara itu memaksa Alea untuk melakukannya, ia meguk salivanya sedangkan pikirannya beradu dengan akal sehatnya. Kedua tangannya menuntun sebilah pisau itu kearah lehernya, menggeret secara pelan hingga darah bercucuran dari arah lehernya. Ia mengigit bibirnya sembari menahan rasa sakit sebelum ia menggeret benda tajam itu untuk melewati syaraf yang akan membuat ia mengakhiri segalanya. Dan ia melakukannya. Alea melihat sekilas semburan darah yang keluar tanpa henti dari lehernya, sebelum ia bisa melihat dunia untuk terakhir kalinya.
***
            “Alea!” Suara itu begitu kencang hingga membangunkan raga Alea yang masih ingin bergulat dengan alam bawah sadarnya. Kedua matanya bisa melihat remang-remang cahaya yang membuat Alea bisa melihat keadaan sekitar dengan jelas. Kini ia memutar matanya sembari mencari sumber suara yang sudah membangunkan seorang putri tidur.
            Seorang wanita paruh baya yang berdiri disebelah kasur sembari berkacak pinggang, “Kamu itu, hibernasi ya? Tidur bisa sampai dua minggu lebih gitu,” desahnya dan langsung pergi keluar sembari berteriak memanggil dokter. Alea masih tidak paham apa yang ibunya katakan, mengapa ia begitu baik padanya? Ia melihat salah satu tangannya sudah dipasangi oleh selang infus, dan ia baru sadar bila ia berada di rumah sakit.
            Pria dengan seragam dokter lengkap dengan teleskop yang mengitar lehernya, berjalan tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Alea dibuat bingung oleh mereka, mengapa ia ada disini. Ia dengan cepat meraba lehernya yang tidak dibalut oleh apapun, atau jahitan karena luka yang ia buat.
            ‘Apa yang telah terjadi?’ pikirnya
            Dokter itu dengan sigap langsung memeriksa keadaan Alea, sedangkan suster yang dengan setia mengikutinya sekarang sedang memeriksa mesin yang tersambung ditubuhnya. Ketika selesai, ia menghela nafas lega, tanda bila Alea tidak ada kelainan secara fisik.
            “Aku kenapa dok?” kata Ale yang sekarang sudah memberanikan diri untuk bicara. Ibunya yang berada disebelahnya, melihatnya dengan cemas. Mata pria tersebut menatap lurus kearah manik mata Alea, lalu beralih kearah wanita paruh baya yang sudah berada disamping Alea ketika ia ada dirumah sakit. “Kamu tidak ingat kenapa kamu berada disini?”
            “Apa aku berusaha untuk bunuh diri? Bukannya aku seharusnya sudah mati?” tanya Alea bingung, masih segar ingatannya bagaimana ia dengan brutal membunuh sahabatnya, atau ketika ia menggorok lehernya sendiri dengan sebilah pisau. Alea menatapi pria yang ada didepannya dengan penuh tanya. Sebelumnya dokter itu terkejut tentang apa yang Alea nyatakan, kemudia ia menggelengkan kepalanya.
            “Tidak, Anda tidak bunuh diri. Kamu terjangkit sindrom OUTRHUMENOSIS, dimana Anda suka mengkhayalkan sesuatu secara berlebihan, namun kasus Anda bisa dibilang parah.” Alea tercengang mendengarnya, ia memutar bola matanya kearah ibundanya. Mencari sebuah kebenaran di manik matanya. Namun ibunya hanya mengangguk membenarkan keadaan yang sedang ia rasakan kali ini.
“Anda juga mengalami penyakit Addison, yaitu disaat Anda mengalami stress yang juga berlebihan hingga merusak syaraf, namun beruntungnya, anda masih mempunyai kewarasan Anda.
            “Namun, karena tubuh anda seakan menolak, Anda pingsan dan tidak sadarkan diri selama lebih dari dua minggu,” lanjutnya. Kedua mata Alea membulat mendengar pernyataan tersebut, sebegitu parah kah keadaannya sekarang, hingga ia memikirkan dirinya di posisi paling memilukan sekarang. Alea teringat oleh kedua sahabatnya, mengapa ia tida kemari? Apakah mereka tidak peduli dengannya?
            “Ma, Siera dan Arsy kemana? Mengapa mereka tidak ada disini?” Bibirnya bergetar ketika ia menanyakan hal memilukan itu, Alea mengharapkan jika Ibunya menjawab jika kedua sahabatnya sedang punya urusan atau apa- Namun tidak, ia hanya diam ditempatnya. Mimik wajahnya seakan menyalurkan rasa penyesalan terhadapnya. “Apa Siera sudah meninggal, jadi Arsy tidak mau berteman lagi denganku?”
            Kedua pipi ibunya memerah, tetes demi tetes mengali dengan sempurna melewati pipi tirusnya. Ia langsung memeluk anaknya dengan erat dan sesekali mengecup kepala Alea. “Tidak Alea, kamu tidak membunuh siapapun.”
            “Karena mereka memang tidak ada, selama ini kamu sekolah dirumah, sayang,” lanjut ibunya. Alea merasakan sakit, namun ia tidak tahu dimana letak organ tubuhnya yang terluka, ia sekarang bertanya, mengapa manusia bisa merasakan sakit seperti yang ia rasakan. Apakah belum cukup penyakit yang dilontarkan oleh dokter untuknya? Mengapa begitu pilu ketika yang ia pikir ia alami selama ini adalah ilusi?

End


Q jijik sm drama ini, apa ini 

Sabtu, 13 Agustus 2016

DUDE I FOUND THIS!!

THX GOD
This (kind of) poems are precious

CRY 
I'm in love for the first time when someone said that i'm cute like other girls.
My heart can't stop pounding whenever i read his sweet word 
After that, i realize that i already have a little feeling for him
and it will be bigger and bigger then  become a real love.

I always teasing him, and make him remember my name
Only for noticed by him.
But someday i become jealous with my own friend
And this situation become a fight

After that, he hates me. And my friend.. Yes, we're done.
I really tired because of this complicated feeling.
This situation make me want to cry in the corner.

This pain is really hurt until now...
Even if  i say sorry, it's already too late

Just pretend that i never have this feeling.
And try to love someone who will loves me back.
Because it's already goodbye.

LOVE
When we're in love
We must be the happiest human in the world
Our time will ruin only for him
Blushing when he says sweet things
Act like an idiot when we're near him
Wish that he will love you back...

But sometimes, love is not that beautiful
When he already loves somebody
Sometime we must let him go
It will be hurt sometimes
But after that, we will know
what real love is

DAT'S IT!
I KINDA LUV THIS FONT THO

Yep, i found it my old blog
It's younger than this blog but, ya, idk why i abandoned dat blog

UUUW, i think it's because i've already comfortable at this blog
y'll know when i wanted to moved to wordpress?
It's kinda complicated, cause i have lot things to do, i just only use this

bubye


Jumat, 03 April 2015

Gagal paham

Tema pendidikan
Ini buat jawaban brainly

Jadi ngga ada judul


Langkah kakiku menuju mimpi
Menuju cita cita yang kugenggam
Bersama buku menjadi pegangan
Dengan guru sbg pencerah

Cita cita yang kuimpikan
Seperti gunung yang menjulang tinggi
Menuju bintang ku daki satu persatu
Agar bersinar lebih dari siapapun

Jumat, 06 Maret 2015

Emotions

If you still not sleep up until 11 PM
Your emotions become crazy.   
You become so wild.
Sometimes, it makes you really angry, sad, happy, tiring or whatever that makes you feel free and crazy.
Even if you still not sleepy  in that hour.
Your body won’t grow.
And your IQ become little bit stupid
Sometimes, if you really really sad.
It makes you want to die early.
Because you though, there’s no one who wants you again.
And it better id you just dissapear.
No one love you.
You’re alone, like a freak.
You build your own life without noticing your own ‘’real life’’.
It better if you doesn’t exist.
Always pretending that you’re happy everytime.
But you’re not.
You hurting yourself with your own pain.
It hurts isn’t?
Die die die
No one sad if you die.
Suicide
Take your knife
Cut your skin
Cut your hand
No one cares
No one do.
Your mind full od jealousy
It never enough
You need more attention
More friends
More more more..
But you can’t
Want to die for one day.
And see who the first people who cry for you.
How much?
Who?
Are you really important for them?
If it no one, what will you do?
Keep hiding, runaway.
Pretending that you’re already dead and build your life again?
Hurry up and die
No one will noticed.
Hurry up!
Before your anger kill someone else.
You’re just a trash in this world.
It’s unfair world for you.
Hurt
Hurt
Hurt
Destroy anything to cath an attention.
Bad girl Bad boy.
Just die die die die
God is never sleep.
Why you don’t try to pray?
Dissapear
Is tha you want to ask isn’t?
Cry more
Cry
Cry until your tears become blood.
Cry until God feel pity for you.
Then makes you dissapear.
If you do.
You’ll be happy.
Really happy.
But you will try to notice your real life
Bu what you get is people who crying for you.
Keep crying for your cold body.
Then you regret your own wish.
Try to get back
But you can’t
Blame yourself.
‘’I’m here. I’m not dead yet’









Pregnancy

When i was a child
I thought every child who was abonden by their parents
Is  the one who hated by them.
Because i’m too scared
If i’ll be like them.
I pretend to be a good girl.
Without mistake.

When i was a child,
I thought rising a child
is like rising a pet.
If it died we can buy or make the other one.

When i was a child,
my mother told me if we were
want to born a child.
Is like we must choose
Between death or your baby.

But i’m not that stupid
for choosing my baby
than my life.

But my mother said,
‘’You don’t understand yet, a baby’’

When i was already and adult.
I got married with my husband.
One day, i’ve already pregnant.
I rise my baby who still in my stomach carefully.
I really love my baby.

When i about want to born my baby.
The doctor said,
‘’You must choose between your baby or your life’’

My husband really shock.
Then he was begging me to save my life first.

It’s really hard to choose.
Because two of them is really important for me.
I really want to save my life.
But my heart won’t let me said it.

With eyes full of tears.
I said to them that i choose my baby’s life.

My husband still begging me

But i keep pushing
Push until my baby was born.

When i hear my baby’s voice.
I thought i can hold it.
I’ll give it a name

Rise my baby with love.
And grow old with my beloved.


But i can’t 

Rabu, 08 Oktober 2014

No Name 1 (end?)


   Disaat mentari bersinar dengan terangnya, terdapat seorang gadis berumur 13 tahun yang tinggal di sebuah rumah besar yang mewah. Ia adalah aku, namaku Mawar Arnoldy. Aku ini gadis pemalu yang bisa membaca pikiran orang lain, dan aku ini mempunyai indera keenam.
   Aku sangat membenci kemampuan yang aku punya ini, kemampuan yang aku punya membuat banyak orang ketakutan, bahkan orang tuaku bercerai karena kemampuanku ini. Semua yang Ayah pikirkan terbaca olehku, sehingga membuatnya murka. Pernah Ayah mengancam Ibuku, bila tidak membuangku maka mereka akan bercerai. Aku yang hanya bisa memeluk erat Ibuku ini tidak bisa melakukan apa apa, saat itu aku merasa Ayah benar benar murka, terbaca olehku kata kata murka yang ia katakan didalam hatinya. Ibuku menolak dan pada akhirnya mereka bercerai. Keesokan harinya, Ibu dan aku pindah kerumah Ibu yang dulu. Rumah yang besar dan mewah, warisan terakhir yang diberikan oleh kakek untuk Ibu. Sejak itulah aku mulai tinggal dirumah ini, rumah peninggalan terakhir kakek.
   Disaat umurku 10 tahun, Ibuku meninggal karena tertabrak mobil yang dikendarai oleh seorang wanita yang mabuk di pagi hari. Mobil itu menembus dinding yang rapuh karena termakan usia, dan menabrak Ibuku yang sedang asyik menanam berbagai macam bunga bersamaku. Saat itu, aku tersentak kaget, ketika melihat Ibuku penuh dengan darah disekujur tubuhnya. Aku merasa ia masihlah hidup sehingga aku masih berusaha untuk menarik tubuhnya sembari berteriak meminta pertolongan dan menangis. Ternyata ada yang mendengar teriakannku, orang itu adalah Pak Joko, ia adalah sopir pribadi aku dan Ibu, ia mulai berteriak dan menyuruh pengendara yang mabuk itu untuk turun. Tetapi pengendara itu tidak mendengarkannya. Sempat terbaca olehku isi pikirannya ingin membunuhnya juga, aku lalu berteriak agar Pak Joko untuk menghindar dari sana. Pak Joko tidak mempedulikan teriakanku, dan ia terus berteriak untuk meminta bertanggung jawaban. Akhirnya mobil itu mulai memundurkan mobilnya lalu melaju kearah barat tempat Pak Joko berada lalu menabraknya. Aku hanya bisa menyaksikannya untuk kedua kalinya, orang orang yang dekat denganku meninggal dengan sadisnya. Setelah pengendara itu menabrak Pak Joko, ia mulai mengarahkan mobilnya kearahku. Aku hanya bisa berlari keluar rumah, terus berlari setelah ia terus menabrak rumah rumah kecil dan membunuh banyak korban dengan besi yang kuat itu, terus, terus berlari yang pada akhirnya datanglah sekawanan polisi yang tangguh mengelilinginya. Pengendara itu mulai menyerah dengan menghentikan mesin mobil tersebut, tetapi datanglah kawanan orang yang tangguh membawa senjata, membunuh semua polisi yang ada disana, orang orang yang masihlah hidup hanya bisa ketakutan sembari melarikan diri. Mereka tidak peduli dengan harta benda yang ia miliki, mereka hanya bisa berlari melarikan diri. Dan yang kulakukan saat itu hanya bisa melihat satu demi satu nyawa yang keluar dari masing masing tubuh yang sudah tidak bisa diselamatkan, nyawa nyawa itu berterbangan dan meninggalkan tempat yang sudah bagaikan pembantaian masal saat itu. Banyak pertolongan berupa polisi, dan orang orang tangguh lainnya. Tetapi saat itu mereka tidak bisa diselamatkan lagi sama seperti yang lainnya nyawanya satu demi satu keluar dari tubuhnya dan melayang ntah kemana. Pembantaian itu terjadi selama 23 jam di kota Vania yang awalnya cerah saat itu sudah bagaikan lautan darah dan api.
   Hanya rumahku saja yang selamat saat itu, dan kota yang menjadi tempat tinggalku menjadi kota paling angker di negriku, mungkin sudah mendunia. Tak disangka sudah 3 tahun berlalu sejak pembantaian tersebut. Pembantaian itu, berakhir ketika pemimpinnya yaitu pengendara mabuk itu meninggalkan kota, dan merasa sudah tidak ada lagi yang hidup saat itu, padahal aku hanya sembunyi di balik tembok yang sudah terbakar oleh api. Karena rumahku adalah satu satunya rumah yang masih bisa berdiri, dipercaya banyak arwah yang bergentayangan dirumahku, sehingga tidak ada yang mau kerumahku kecuali buronan yang sembunyi dirumahku agar tidak ketahuan oleh polisi dan anak anak nakal yang beruji nyali dirumahku, tetapi pada akhirnya mereka ketakutan karena melihatku memakai pakaian putih dengan rambut digerai. Walaupun dirumahku masihlah ada arwah Ibu, Kakek dan Pak Joko yang menemaniku, bagiku rumah angker itu bukanlah neraka tetapi bagaikan surga bagiku, hanya merekalah yang masih mau menemaniku.
   Suatu hari, Ibu menyarankanku untuk meneruskan sekolahku, karena aku sudah 3 tahun tidak sekolah sejak pembantaian 3 tahun yang lalu. Aku hanya menganggukan kepala sembari terus membacakan sebuah cerita yang aku buat. Aku tahu cerita itu tidak masuk akal, tetapi ntah kenapa mereka menyukainya. Ntah kenapa sampai sekarang aku belum merasakan rasa rasa sekolah lagi.
   ‘’Pagi semua, apakah kalian bisa tidur?’’ sapaku pada Ibuku, kakek, dan Pak Joko yang sedang duduk duduk di balkon atas.
   ‘’Pagi, cucuku’’
    ‘’Pagi, Mawar’’
    ‘’Pagi, non’’
   ‘’Iiih, Pak Joko, kan’ sudah dibilang jangan panggil non lagi! Kita ini sudah bagaikan satu keluarga, kenapa Pak Joko masih manggil Mawar non?’’senyumku sembari menyiapkan 3 tangkai bunga mawar untuk sarapan mereka.
   ‘’Maaf non, saya sudah terbiasa dengan panggilan itu’’katanya sembari meminta maaf.
   ‘’Kau tidak perlu repot repot menyiapkan sarapan untuk kami, Mawar’’kata Ibu.
  ‘’Tidak apa apa kok, Bu. Aku malah senang menyiapkan sarapan untuk kalian’’ senyumku lagi.
  ‘’Tetapi, lihatlah dirimu, cu. Kau sudah 3 tahun tidak memakan daging, membuatmu sangatlah kurus. Kau hanya memakan buah buahan kan’?’’tanya kakek sembari mengambil setangkai mawar lalu memakannya.
  ‘’Ya, mau bagaimana lagi, Mawar tidak mempunyai banyak uang untuk membelinya, kek’’jawabku sembari meratapi 2 tangkai mawar yang tersisa.
  ‘’Kau tidak mau meninggalkan kami kan’?’’tanya ibuku sembari mengambil setangkai bunga mawar bagiannya.
  ‘’Nggak kok bu, hahahahaha’’kataku sembari tertawa kecil.
  ‘’Kita masih mempunyai banyak uang, lebih dari 1 miliar di brankas, belum lagi di bank. Dan kau tahu semua itu’’katanya lagi, sembari menatap ke arah mataku.
Aku menelan air liur sendiri dan bergumam,’’Ya, klo aku pergi nanti kalian bisa saja meninggalkanku sendiri’’ Air mataku mulai menetes, melewati kedua pipiku.
  ‘’Tidak mungkin, Mawar. Kita akan selalu ada disisimu sampai saat itu tiba’’ kata Kakek sembari mengusap air mataku.
  ‘’Maksud, kakek?’’
  ‘’Disaat surga terbuka untuk kami’’
  ‘’Tuh, kan’ aku mulai benci jika kalian mengatakan begitu’’ kesalku
  ‘’Tetapi kita tidaka akan meninggalkan, non sampai non menemukan orang orang yang baik disekeliling non’’ senyum Pak Joko.
Aku mulai tangis terisak isak sembari memeluk mereka bertiga, walau tidak bisa menyentuh langsung, aku masih bisa merasakan kehangatannya.
  ‘’Mawar, pergilah ke bank. Cairkan uang yang terdata di kartu ini. Kamu tidak bisa terus terusan seperti ini. Pergilah nak’’perintah Ibuku.
  Aku terdiam sejenak, menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya kembali. ‘’Aku sudah bilang aku tidak bisa meninggalkan kalian’’rengekku.
  ‘’Kami juga tidak bisa membiarkanmu terus-terusan seperti ini’’gumam Ibuku.
  ‘’Tidak bisa’’tolak-ku.
  ‘’Kami berjanji, akan terus berada disini sampai kamu kembali ke rumah ini’’janji Ibuku.
  Pak Joko, dan Kakek menganggukkan tanda setuju, ‘’Pergilah, kami akan setia menunggu, non’’kata Pak Joko.
  Mataku menatap langit langit rumahku yang sudah tua, lalu menurun mengenai keluargaku. Untuk kedua kalinya aku menghirup nafas dalam dalam dan menghembuskannya kembali. Aku hanya bisa mengangguk terpaksa karna janji tersebut. ‘Apakah mereka akan baik – baik saja?’
‘Apakah mereka tidak akan meninggalkanku sendiri?’
‘Apakah mereka tidak akan pergi?’
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terngiang – terngiang dikepalaku. Pikiranku setengah tidak percaya akan janji janji manis tersebut, seakan teringat bahwa mereka sudahlah menjadi arwah. Mereka bisa pergi begitu saja ketika pintu surga terbuka untuk mereka. Dan bisa saja, ketika aku pergi mereka menghilang dan aku. Tidak bisa mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.
  ‘’Mawar, pergilah. Kami akan menunggu disini. Percayalah Mawar’’kata Ibuku meyakinkanku. Ia berjalan mengarahku, lalu ia mendekap tubuhku secara pelan. Ibu yang telah terlihat transparan itu mendekapku dengan penuh kehangatan. Tetesan air mata mengalir melewati pipi. Seakan seperti drama yang biasa aku tonton sebelum kejadian ‘itu’.
  Tiba – tiba ia mengangkat wajahnya dan mengeluh, ‘’Hmmm, bau sekali anak Ibu. Mandi dulu sana sebelum pergi’’
  Tangisanku berhenti berganti menjadi senyum yang penuh tawa. ‘’Sebegitu baukah aku? Ibu juga belum mandi, tapi keren juga sih walaupun nggak mandi tapi tetep tidak tercium baunya. Jika Ibu belum jadi arwah dan nggak mandi selama 3 tahun mungkin Ibu sudah Uuuuuuhh bau sekali’’ ejekku.
  ‘’Hush mandi sanah’’kata Ibuku sembari tersenyum malu.
  Aku mempercepat langkahku menuju kamar mandi yang masih berfungsi di kota ini. Memang sudah 3 tahun, suatu keajaiban ada kamar mandi yang mempunyai air yang masih bisa mengalir dengan lancar. Yaa aku sangat mensyukurinya.
***
  Aku meraih handuk merahku dan menggosokkan ke seluruh badanku sehingga tidak ada lagi air yang membasahi badan kecilku ini. Lalu aku memakai baju terusan bewarna biru berenda dan memoleskan sedikit bedak di wajahku.
  ‘’Aku siap!’’semangatku.
  Aku menggapai gagang pintu kamar mandi dan berjalan menyusuri ruang makan tempat keluargaku berada sebelumnya. Tetapi mereka tidak ada.
‘Tidak ada’
‘Mereka kemana?’
  Aku berlari menyusuri rumah besar yang tua itu, mencari mereka yang sudah menjadi arwah. Terus mencari mereka tetapi tidak ketemu.
‘Dimana?’
‘’Dimana?’’isakku
‘’Mereka bohong? Nggak mungkin kan’? IBU! KAKEK! PAK JOKO’’aku berteriak memanggil mereka berharap mendapat sahutan dari salah satu dari mereka, tetapi tidak.
  Rumah itu sunyi, sepi tanpa ada tawa dan canda mereka bertiga. Tanpa ada rasa menyerah, aku terus berlari lari menyusuri ruangan demi ruangan, rumah demi rumah yang sudah hancur akan kejadian 3 tahun lalu. Tetapi mereka tetap tidak ada. Yang ada hanyalah arwah arwah yang sudah bersiap berjalan menuju surga. Aku menarik salah satu arwah itu dari salah satu barisan.
  ‘’Dimana mereka?’’bentakku.
  ‘’Siapa?’’tanyanya.
  ‘’Mereka, Ibu, Kakek, dan Pak Joko!?’’
  ‘’Mereka, sudah termakan cahaya’’jawabnya sembari kembali ke barisannya dan menghilang begitu saja.
  ‘Surga?’pikirku.
  Aku berlari menuju rumah besar megahku itu. Berlari menuju ruang makan dan mendapati sepucuk surat dan surat surat penting lainnya. Aku membukanya dengan pelan berharap mereka hanya pergi untuk sekedar jalan – jalan di kota lain dan malam nanti kembali sembari membawa buah tangan yang banyak. Tetapi tidak.
  ‘Maaf, kami melanggar janji kami. Maaf kami harus pergi, maafkan kami, Mawar’
  ‘Bohong, bohong, bohong’
  Berteriak sekencang apapun, menangis berkali kalipun mereka akan tetap tidak akan kembali. Mereka tlah abadi disana. Aku tidak bisa apa – apa, apa yang harus kulakukan? Meninggali kota ini? Hey Ibu yang sudah ada di surga, jawablah aku. Apa yang harus kulakukan? Kembalilah, tepati janjimu itu. Tuhan, ujian apa lagi ini?
***
  Kugapai ransel dan koper hitamku. Lalu membawanya keluar meninggali kota Vania yang penuh akan kenangan pahit dan bahagia, selamat tinggal. Aku menatapi langit biru yang sedikit berawan diatas sana. Dan berjalan menjauh melewati perbatasan menuju kota Dharma. Alangkah indahnya kota itu dihiasi oleh lampu – lampu jalan dan tanaman – tanaman yang terawat dengan indahnya. Kendaraan – kendaraan yang lalu lalang melewati jalan yang tertutupi aspal, toko – toko yang berjejer mengelilingi kota. Manusia – manusia yang mempunyai senyum indah dimukanya, tetapi tidak dihatinya.
  Seakan menggunakan topeng, mereka menutupi rasa hati yang sebenarnya. Penuh kebohongan dan kemunafikan. Bagaikan boneka yang diperalat pemiliknya.
  Kota ini seperti drama, akulah pemeran utamanya. Mereka hanyalah figuran. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang menjadi penengah dan figuran. Lalu siapakah yang akan menjadi lawanku disini?
  Kugerek koper hitamku yang dilengkapi oleh 2 roda kecil dibawahnya, kebingungan di tengah keramaian kota. Berjalan tanpa arah mencari cari bank yang berada di kota ini.
‘Dimana ini?’
‘Aku dimana?’
  Pertanyaan yang tak mungkin terjawab jika aku terus bertanya dalam diam. Meratapi nasib dibawah langit biru nan cerah. ‘Aku sendirian’. Tidak tidak tidak.
  Aku menggelengkan kepalaku dan melihat sekelilingku, ‘’Setidaknya aku tidak sendirian di tengah kota ini’’ yang aku maksud aku tidak sendiri, masih banyak makhluk makhluk lain selain manusia manusia bertopeng itu. ‘Takut’ ‘Tolong, siapapun’
  ‘’Suara apa itu?’’ Aku mendengarkan suara rapuh ditengah keramaian kota. Sangat kecil tetapi terdengar begitu sangat menderita. Aku berlari tergopoh gopoh membawa barang bawaanku, mencari sumber suara tersebut.
  Aku terus berlari hingga berhenti disebuah rumah kosong, dan tidak menemukan siapapun. Bahkan arwah/makhluk lainnya tidak terlihat disana. Tempat itu sangatlah sunyi, dan gelap. Lalu siapa yang meminta pertolongan?
  Kugerek kembali koperku itu, berusaha berbalik menuju kota. Tetapi entah angin atau apa yang membuat pintu yang terbuka dengan lebarnya tertutup dengan tiba – tiba. Tempat itu menjadi benar benar gelap.
  Tetapi lama kelamaan muncullah sebuah cahaya yang menjadi besar dan menunjukkan sebuah wajah yang tidak asing.
  ‘’Tertangkap’’

End?
  

Ts kgk punya ide, nggak punya ide #dibacok
Btw, ini cuma ngelanjutin cerita yang keterusan #lel

:V 


Jumat, 19 September 2014

Alcoholic

I was business man. My business doing well. I really loved animal. Especially my black cat. I have one, his name is Kuro. And i really loved my girlfriend. So i married her. After i got married with her my business's falling down. I really hated my life. Then i wasted my money to buy some alcohol and drink it everyday.

After that, i was out of my mind. I became so rude. I kicked animal, i killed animal, and burned them. I always brought some alcohol with me while i did something rude with some animals. But my black cat always followed me whereever i went.

I was really mad at him. So i took sockets of his eyes with knife. And my black cat became blind. After that he became as annoying ever. So i hung him and he died.

The next day, my wife brought a new cat. The cat was really similar with the old one. She really loved the cat, but i still got mad easily.

One day, i took a knife and tried to kill the cat. But my wife didn't want me to kill it. So she tried to protected it. But in the end, i stabbed my wife with knife. And she died.

I really loved my wife. I didn't believe i killed her. I still loved her. I still couldn't buried her. And i couldn't burn her. I wanted to keep her. Then i put her in the freezer, until now.

End

^ btw itu blog yang baru dibikin :v < niat pindah tapi nggak jadi
x

Minggu, 20 April 2014

FIGHT BACK

TS gendeng itu disaat buat cerita alurnya kek orang maen bola. Pertama tamanya adem ayem akhirnya meriah kek suporter nungguin goal :v  njir TS gendeng #slap

FIGHT BACK
SUR+A/2014
 
                Hari ini hari dimana kehidupanku yang baru dimulai. Matahari pagi sedikit demi sedikit mulai menyinari dunia. Sinarnya membuatku terbangun dari mimpi indahku. Aku mulai beranjak dari tempat tidurku yang empuk.  Mataku yang masih setengah mengantuk ini memaksakan untuk membuka lebar demi memulai lembaran baru.
                Kusambar handuk biru tebal yang berada di lemari lalu berjalan mengarah ke kamar mandi. Aku memerlukan setengah jam untuk membersihkan diri dan sekitar 15 menit untuk merapikan diri. Sembari berfikir tentang bagaimana nanti aku disekolah baruku. Tetapi tak kusangka itu membuatku butuh waktu lama untuk keluar dari kamar mandi dan segera berlari kecil mengambil seragam dan sepatu. Oh Tuhan, aku tak mungkin telat di hari pertama. Aku membubuhi sedikit bedak diarea pipi dan mengoleskan lip blam di bibir tipisku. Tak lupa aku mengambil tas merahku yang terpanjang di sebelah meja rias. Lalu aku berlari terbirit birit,  menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan layaknya nona muda.
***
                Aku berjalan menuju tempat duduk yang biasa ku duduki sembari tersenyum. ‘’Pagi semua’’ sapaku lembut.
                ‘’Pagi, sayang. Hari ini kamu ingin makan roti isi atau nasi goreng?’’tanya Ibuku yang sedang menyiapkan sarapan  untuk Ayahku yang sedang sibuk membaca koran-nya.
                ‘’Apa saja, karena aku nggak mau telat di hari pertama’’ senyumku.
                ‘’Yaudah, kamu makan roti ya? Susunya juga diminum lho!’’kata Ibuku sembari memberikanku 2 lembar roti yang sudah dioleskan selai cokelat.
                ‘’Terimakasih Mama’’kataku sembari menerima 2 lembar roti tersebut.
                Tiba tiba Ayahku menutup korannya dan mulai memakan rotinya dengan cepat. Ia lalu meneguk susu sapinya dan mulai menghela nafas.
                ‘’Kamu yakin ingin sekolah? Papa tak memaksa kok, kamu masih bisa Homeschooling lagi’’ kata Ayahku sembari membetulkan kacamatanya.
                Aku menggelengkan kepala sebagai tanda jika aku menolaknya.  ‘’Aku akan baik baik saja’’senyumku.
                Ayahku kembali menghela nafas lalu melirik kearah jam tangannya. ‘’Ririn sudah waktunya’’ Ia lalu menunjuk kearah jam dinding yang berada tak jauh dari ruang makan.
                Aku mulai melahap 2 lembar roti pemberian Ibuku dan meneguk segelas susu layaknya orang yang sudah tidak menyantap makanan berminggu – minggu. Lalu aku mulai beranjak dari tempat dudukku. ‘’Ririn berangkat ya?’’ kataku sembari melambaikan tangan dan berlari lari kecil menunggu respon dari kedua orangtuaku.
                ‘’Hati hati dijalan ya, Ririn!’’ kata Ibuku.
                 Wajahku mulai terukir senyuman yang lebar dan mulai menambah kecepatanku berlari menuju mobil hitam yang sudah lama menunggu kehadiranku.
                 ‘’Selamat pagi, Nona’’ sapa Pak Tono, sopir keluargaku.
                 ‘’Pagi, Pak Tono’’ Senyumku.
                ‘’Hari ini nona tampak ceria sekali’’ katanya sembari membukakan pintu mobil.
                Aku mengangguk, ‘’Ya, aku tidak sabar belajar di sekolahku yang baru’’.
                Pak Tono hanya tersenyum sembari mempersilahkanku untuk masuk ke mobil hitam yang akan membawaku menuju sekolah baruku. Aku tidak sabar untuk bisa mewarnai hari hariku disana.
***
                 Mobil berhenti didepan gerbang sekolah yang bertuliskan ‘Sekolah Menengah Pertama 12 Carita’. Ketika jarum pendek mengarah ke angka 6, untuk pertama kalinya aku melangkahkan kakiku ke sekolah-ku yang baru. Tak lupa-ku berterima kasih kepada Pak Tono karena t’lah mengantarkanku ke sekolah-ku yang baru dari kejauhan.
                Dengan senyum lebar aku berjalan menyusuri taman yang luas, dihiasi oleh berbagai jenis tanaman yang dirawat dengan baik. Hewan hewan seperti kucing, kelinci, dan anjing milik sekolah bermain dengan rianngnya hingga mereka tak sadar jika mereka berlari hanya mengelilingi-ku sehingga aku tak mampu untuk bergerak.
                ‘’Aih, lucunya’’kataku sembari mengelus anjing yang memiliki bulu berwarna cokelat muda.
                Aku duduk diantara mereka sembari mengelus mereka dengan pelan. Jika dilihat dengan seksama, mereka mempunyai kalung leher yang bertuliskan nama masing masing.
                ‘’Herry’’kataku sembari tangan kanan mengelus Anjing yang memiliki bulu berwarna cokelat muda.
                ‘’Merry’’ kataku sembari tangan kiri mengelus kucing yang mempunyai mata berwana biru dengan bulu berwarna putih bersih.
                ‘’Carlos’’senyumkuu. Lalu kelinci yang berwarna putih kecokelatan itu naik ke pangkuanku, disusul oleh kucing yang berwarna putih, hitam dan cokelat muda.
                Aku tertawa kecil melihat tingkah kucing yang satu ini, ‘’Alpha’’.
                 Aku terus bermain dengan mereka, hingga tak menyadari bahwa taman pada saat itu sudah mulai ramai dengan hewan hewan lainnya dan anak anak perempuan yang melakukan berbagai kegiatan.
                ‘Ini adalah surga bagiku’pikirku.
                Tiba tiba saja Carlos turun dari pangkuanku dan melompat lompat menuju seseorang wanita yang memakai kacamata hello kitty dengan rambut yang ditata seperti ombak yang besar. Ia menatapku tajam sembari menggendong Carlos dipelukannya.
                Aku sebenarnya tidak tahan menahan tawa ketika melihat penampilan wanita tersebut. Tetapi aku memaksakan untuk tidak melakukannya karena aku menyangka bahwa ia adalah seorang guru. Aku menutupi mulutku dengan tangan kananku.
                 ‘’Jika kamu ingin tertawa, tertawalah. Yang menata ini bukan saya sendiri. Saya menjadi bahan eksperimen anak anak perempuan yang sedang mempelajari model rambut dan fashion. Tetapi sepertinya gagal’’ katanya sembari tertawa kecil. Ia mengelus Carlos dengan lembut. ‘’Kau anak baru?’’tanyanya.
                Aku menganggukkan kepala dengan pelan. Wanita itu tersenyum sembari membantuku untuk berdiri.
                ‘’Pantas Madam belum pernah melihat anak perempuan yang berambut cokelat keemasan disini. Namamu siapa? Oh iya, maafkan Madam belum memperkenalkan diri. Nama Madam Carlos, sama seperti kelinci ini’’katanya memperkenalkan diri  sembari mengulurkan tangan tangannya.
                Dengan takut takutnya aku menjabar tangan Madam Carlos, ‘’Namaku Roselia Puririn. Biasanya saya dipanggil Ririn’’kataku memperkenalkan diriku dengan panik.  ‘Aduuh aku memalukan sekali’ pikirku sembari melepaskan jabatanku.
                Madam Carlos hanya tertawa kecil dan melepaskan Carlos, ‘’Ayo, ikut Madam ke ruang guru’’ senyumnya. Lalu ia berjalan mengarah gedung sekolah.
                Aku mengangguk sembari berjalan mengikutinya.
                Guru guru disini sepertinya baik, sekolah-nya menyenangkan. Disini banyak hewan yang bisa diajak bermain. Tempatnya sejuk, bebas polusi. Ayahku memang tidak salah memilih sekolah untukku. Semoga hal ‘itu’ tidak terjadi lagi dikehidupanku.
***
                 Madam Carlos memasuki ruang guru yang penuh dengan guru guru perempuan yang sedang melakukan kegiatan yang berbeda beda.
                 ‘’Ririn, tunggu disini ya? Madam akan mengambil berkas Madam dan kita akan langsung pergi ke kelasmu yang baru, oke?’’katanya sembari mengelus kepalaku. Madam Carlos berjalan meninggalkanku menuju meja yang berada dekat dengan jendela.
                 Aku hanya bisa diam ditempat menjadi sorotan guru guru yang berada disana. ‘’Emmm’’ ‘Oh Tuhan, apakah ada yang aneh dari caraku berpakaianku? Apakah tingkah lakuku aneh? Tuhan, beritahu aku apa kesalahanku saat ini?’
                Guru yang memakai baju training Hijau bergaris berjalan mendekatiku. ‘’Siapa namamu?’’tanyanya.
                 Pikiranku nggak karuan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasakan ada burung burung yang terbang mengitari kepalaku. Aku salah tingkah, ‘’Na-na-nam—aaakuu Ros—seliii—aaa Pu—Ri-ri-rin’’. Aduh malunya.
                 Guru yang diduga adalah guru olahra tertawa terbahak bahak sembari mengguncang guncangkan badanku dengan kencang membuatku sedikit pusing. ‘’Aduh lucunya. Madam adalah guru olahraga kelas 2 disini. Nama Madam adalah Jessie, Madam Jessie’’katanya menepuk nepuk pundakku.
                  Lalu wanita yang memunyai mata berwana biru dan rambut pirang berjalan mendekati kami. ‘’Hello, Ririn. I’m your english Teacher here. You can call me Madam Elsa’’ katanya memperkenalkan diri.
                  ‘’Ni-nicee-ee To Me-eet yo-u Ma-ma-dam El-sa’’kataku. Wajahku mulai memerah ketika menyadari bahwa banyak guru yang mendatangiku dan memperkenalkan diri. Mereka menanyakan hal hal yang berbau keseharianku. Oh Tuhan, tolong selamatkan aku.
                ‘’Hai guru guru yang disini, apakah kalian tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengerjai anak baru ini?’’tanya Madam Carlos menyelamatkanku. Ia menjauhkanku dari guru guru yang tidak kehabisan bahan untuk membuatku salah tinkah. 
                Tiba tiba bel yang menandai bahwa pelajaran pertama akan dimulai berbunyi. ‘’Tuh bel jam pelajaran pertama sudah dimulai’’senyumnya yang terus melindungiku.
                ‘’Eee, tapi kita masih ingin mengobrol dengan anggota baru disekolah ini’’kata Madam Jessie.
                 ‘’Ibu sudah mendapatkan berkasnya, ayo kita kabur!’’katanya padaku sembari menarikku keluar dari ruang guru. Lalu ia menurunkan kecepatan dan berjalan seperti biasa.
                  ‘’Maaf’’katanya dengan nafas terengah engah. ‘’Seharusnya kita tidak berlari..’’
                 ‘’Tidak, ini bukan salah Madam. Lihat tidak ada yang lihat, karena anak anak disekolah ini pasti sudah memasuki kelas masing masing. Tidak akan ada yang melapor kok, Madam tidak akan dihukum’’panikku.
                 ‘’Bukan karena dilarang, tapi karena Madam kecapean karena berlari seperti tadi’’katanya dengan nafas terengah engah. Ia berusaha mengatur nafasnya sedangkan aku hanya menatapinya.
                 ‘’ Terimakasih telah menolongku, Madam Carlos’’senyumku.
                 ‘’Tidak apa apa, itu sudah menjadi tugas guru untuk menyalamatkan muridnya. Maaf ya tingkah guru guru disini memang seperti itu jika menemukan mainan baru’’katanya.
  Mainan baru!???
                ‘’Maksud Madam apa dengan ‘mainan baru’?’’tanyaku sembari berharap itu bukan hal yang aneh.
                ‘’Guru guru disini itu hampir semuanya lolicon, dan mereka akan senang jika melihat mainan baru dengan tingkah yang lucu seperti kamu’’jawabnya dengan santai.
                Bulu kudukku mulai merinding.
                Madam Carlos mulai berjalan memasuki kelas yang akan menjadi kelasku hari itu. Suasana yang tadinya ricuh menjadi diam sesaat ketika mendengar hentakan kaki Madam Carlos. Lagi lagi aku menjadi sorotan anak perempuan yang berada di kelas saat itu. Aku sangat gugup hingga membuatku menelan ludahku sendiri.
                ‘’Halo anak anak, perkenalkan anak baru di sekolah kita’’kata Madam Carlos dengan ceria. ‘’Ayo Ririn perkenalkan dirimu’’
                Aku menganggukkan kepala, lalu mengambil spidol berwarna hitam dan menuliskan nama lengkapku. Aku membalikkan badanku menghadap mading kelas.
                ‘’Namaku Roselia Puririn, kalian bisa memanggilku Ririn. Senang berkenalan dengan kalian’’panikku sembari membungkkukan badan.
                Keadaan kelas pada saat itu sangat sunyi setelah aku memperkenalkan diri. Lalu aku mengangkat kepalaku. Semuanya tertawa terbahak bahak.
                ‘’Ehm ehm, tata krama tata krama’’kata Madam Carlos memperingatkan.
                ‘’Maaf, Madam Carlos’’seru semua anak perempuan di kelas tersebut.
                ‘’Nah, Ririn. Kamu duduk  diii-. Nah kamu duduk di bangku kosong yang letaknya paling belakang. Tenang kok, nanti tempat duduknya akan diundi kembali. Jadi kamu tenang saja, ya?’’kata Madam Carlos menunjukkan tempat duduk yang tidak diduduki siapapun.
                 Aku berjalan menuju bangku kosong tersebut, lalu menepatinya.
                 ‘’Perkenalannya nanti saja ya? Sekarang kita akan belajar tentang Seni’’kata Madam Carlos sembari membuka berkas berkasnnya.
                 ‘’Lho Madam, rambutnya gaya baru?’’tawa salah satu anak perempuan yang letak tempat duduknya berada di pojok dekat dengan jendela barisan pertama.
                ‘’ Ini? Iya, biar sesuatu’’kata Madam sembari memegang megang rambut yang berbentuk gelombang laut tersebut.
  ‘’Lalu kacamatanya?’’
                ‘’Biar gaul seperti kalian’’jawab Madam dengan santai.
  Seisi kelas langsung tertawa kembali.
                 ‘’Oke oke, ssttt! Nah kita mulai pelajarannya ya?’’
***
                Bel berbunyi 3 kali menandakan istirahat makan siang dimulai. Anak anak perempuan seisi kelas mulai meninggalkan kelas. Tetapi aku masih duduk di tempatku sembari menyantap makanan yang yang kubawa dari rumah. Ketika berada disuapan terakhir. Ada seseorang anak yang letaknya berada disebelahku menghampiriku. Ia mempunyai rambut pendek seperti rambut anak laki laki kebanyakan.
                 ‘’Hai anak baru, namaku Jeniver Zenissa. Kamu bisa memanggilku Jeniver’’katanya sembari mengulurkan tangan kanannya.
                Aku mengusap mulutku dengan sapu tangan yang berwarna putih dengan corak bunga sakura dan garis garis. ‘’Halo, namaku Roselia Puririn. Kamu bisa memanggilku Ririn’’senyumku sembari menjabat tangannya.
                 ‘’Teehee’’
                 ‘’?’’
                 ‘’Enggak apa apa, padahal tadinya mau ke kantin tetapi malah keasyikan memperhatikan kamu yang makan dengan lahapnya’’senyumnya.
  Wajahku memerah seperti kepiting rebus. ‘’Nnghh, kamu ini perempuan kan’?’’tanyaku.
                 ‘’Aku ini cewek tulen kok’’jawabnya sembari mengusap kepalaku. ‘’Penampilanku memang sudah begini sejak kecil sih, jadi kebiasaan. Aku masuk kesini agar bisa mengubah perilakuku, tapi gak berhasil’’ia tersenyum sembari memukul kepalanya pelan.
                 ‘’Tapi aku suka dirimu yang seperti ini...’’kataku dengan malu. Aku membereskan tempat makananku dam memasukkan kedalam tas. 
‘’Andai aku ini cowok.. Mungkin aku akan jatuh cinta padamu’’katanya sembari mencium tanganku. ‘’Tapi aku sudah menyukaimu dari pertama kali melihatmu, kamu mau enggak pindah  ke Amerika lalu kita menikah disana?’’senyumnya.
                ‘’Eeeee’’panikku. Aku salah tingkah, padahal Jeniver itu adalah anak perempuan. Ingat dia adalah anak perempuan!
                ‘’Aih, tingkah lakumu lucu’’katanya sembari memelukku dengan erat.
                Wajahku kembali memerah layaknya air mendidih.
                 Kelas itu sangat sepi saat itu. Hanya kami berdua. Hanya ada suara detakan jam dinding. Aku kehilangan kata kata. Aku tahu kami ini adalah sesama perempuan, tapi entah mengapa ini lain dari yang seharusnya. Perasaan apa ini?
                Aku  tidak bisa melepaskan pelukannya, dan memutuskan untuk melirik kearah jendela. Aku menyadari ada seseorang yang datang. Ia melihat kami, lalu memasuki kelas.
                ‘’Astaga, maafkan dia ya? Ririn’’kata perempuan itu sembari memisahkan kami.
                ‘’Tidak apa apa, aku anggap itu adalah pelukan antar teman’’senyumku.
                ‘’Teman? Akh! Aku merasakan ada yang menancap di jantungku’’kata Jeniver sembari mengelus ngelus badannya.
                 ‘’Maaf jika dia sedikit lebay, anak ini adalah anggota klub drama’’katanya sembari menarik narik kedua pipi Jeniver. ‘’Namaku Hera Dandelion. Namaku memang aneh, tapi aku tidak bisa membencinya’’katanya sembari membetulkan kacamatanya.
                ‘’Namaku Roselia Puririn’’kataku memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kananku.
  ‘’Aku sudah mendengarkannya disaat Ririn memperkankan diri didepan. Senang berkenalan denganmu’’katanya sembari menjabat tanganku.
                ‘’Aku juga’’
***
 ‘ Dear diary
                3 bulan setelah kedatangaku di sekolah putri carita. Teman temanku semakin banyak, ada yang berasal dari kelas lain. Aku sangat bersyukur telah memasuki sekolah ini. Semoga kebahagiaan ini tidak akan berakhir. ‘
                Aku menutup buku diary-ku. Aku memang jarang menulis diary, karena aku hanya menulis hal penting dalam hidupku. Tetapi s’lama 3 bulan ini aku mulai menulis diary lagi. Aku menuangkan semua kebahagiaan yang aku rasakan melewati tulisan.
                Aku sempat membuka buku diary-ku yang lama. T’lah kusam dimakan usia. Berwarna merah muda dan corak wajah dengan senyuman. Tetapi isinya berbeda dengan covernya. Aku bukanlah ‘aku’ yang dulu.
***
                Hari sudah memasuki bulan April. Aku melempar kalendar kecilku ke lantai. Sembari membaringkan badanku ke ranjang. Tangan kiriku mengusap keningku, bisa kurasakan rasa panas dengan tangan kiri-ku dan masih bisa kurasakan rasa panas itu berada di sekujur tubuhku. Penyakit ini memaksaku untuk tetap diam di rumah. Ini sangat membosankan.
                Aku hanya bisa menatap keadaan luar melewati jendela, banyak kendaraan lalu lalang. Entah itu sepedah, kendaraan bermotor bahkan odong odong.
                 ‘’Aih jadi ingat masa kecil..’’kataku sembari memerhatikan gerak gerik odong odong tersebut hingga ia menghilang dari hadapanku. ‘’Jadi pengen naik odong odong, rindu sama lagu anak anak yang selalu diputar setiap ada anak kecil yang menaikinya. Aku masih bisa naik odong odong nggak ya?’’kataku sembari tertawa kecil.
                Terdengar suara pintu yang diketuk ketuk dengan pelan. ‘’Non..’’seru Mbok Inem yang berada di luar kamar.
                ‘’Masuklah’’jawabku.
                Mbok Inem berjalan memasuki kamar sembari meletakkan nampan yang diatasnya ada makanan, segelas air putih, buah, dan obat obatan. dimeja yang letaknya disebelah ranjangku. ‘’Non, ini dimakan ya?’’
  Aku mengangguk. ‘’Mbok,  Mama kemana?’’ tanyaku.
                ‘’Nyonya pergi belanja dengan teman temannya. Tetapi beliau bilang obat-nya harus  diminum, dan makanannya dimakan’’kata Mbok Inem.
                Aku tertawa kecil, ‘’Aku kan’ bukan anak kecil lagi... Yaudah, Mbok bisa pergi sekarang. Tenang makanannya akan kumakan’’.
                ‘’Kalo begitu, Mbok pergi ya?’’kata Mbok yang berbalik badan dan berjalan keluar dan menutup pintu.
                Aku memeriksa nampan yang berisi makanan, buah jeruk, segelas air dan obat obatan. ‘’1, 2, 3, 4.. Aih kok obatnya banyak ya?’’ kagetku ketika sedang menghitung obat obatannya.  ‘’Aku harus minum semua obat – obat ini?’’. Aku terdiam sejenak. ‘’Obat – obat ini  pasti pahit!’’
                Aku menghela nafas panjang. ‘’Tapi jika aku tidak meminumnya, besok aku tidak bisa bertemu mereka lagi’’kataku sembari menatap langit langit.
  ‘’Yosh’’
***
                Keesokan harinya, penyakitku mulai menghilang. Dan aku merasa hari ini aku bisa pergi ke sekolah.  Sehingga aku mulai melakukan kegiatan seperti biasa, mandi, merapikan diri... dan kegiatan lainnya.
                Aku mulai menuruni tangga satu demi satu agar tidak terjatuh. Lalu berlari lari kecil menuju ruang makan.
                ‘’Pagi Ma, Pa!’’sapaku sembari duduk ditempatku biasa duduk. Aku menyambar 2 helai roti tawar dan mengoleskannya 1 sendok selai cokelat ke masing masing helai dan menggabungkannya jadi satu.
                ‘’Ririn, panasmu sudah turun?’’tanya Ibuku.
                Aku menganggukkan kepala. Lalu aku melahap 2 helai roti tawar yang kugabungkan.
                ‘’Kau yakin?’’tanyanya lagi. Ia berjalan menghampiriku untuk memeriksa apakah aku baik baik saja atau tidak.
                ‘’Panasnya sudah turun sih.. Tapi obatnya masih harus diminum ya?’’senyum Ibuku sembari memberiki 4 tablet obat yang mempunyai rasa pahit.
                ‘’Ririn sakit? Sakit apa?’’tanya Ayahku memukul meja makan.  ‘’Kenapa kalian tidak meneleponku disaat aku pergi kemarin??? Kan’ Papa bisa membawa pekerjaan Papa kesini’’panik Ayahku.
                ‘’Eeeh, jika kamu tidak bekerja dengan baik. Anakmu mau dikasih makan apa, Tony?’’tanya Ibuku sembari mengusap kepalaku dengan lembut lalu pergi ke tempat semula.
                ‘’Keluarga lebih penting!’’bentak Ayahku. ‘’Aku tidak  mau ‘My Little Angel’-ku kenapa kenapa... Ayo kita kerumah sakit sekarang!’’kata Ayahku yang dramatis.
                ‘’Tapi aku nggak apa apa kok’’senyumku.
                ‘’Jadi Pria jangan sok dramatis deh’’kesal Ibuku sembari memukul Ayah pelan.
                Ayahku terdiam sejenak lalu meraih tangan Ibuku dan menciumnya. ‘’Tangan ini... Ketika tangan ini memukul kepalaku yang sekeras batu kesakitan ya? Maafkan aku’’sedih Ayahku.
                ‘’Nggak usah lebay!’’senyum Ibuku sembari memukul kepala Ayahku sedikit keras.
                ‘’Tuh kan’ pasti tambah sakit..’’
                ‘’Tony, kamu tahu kan’ akibatnya jika membuatku marah?’’kesal Ibuku.
                Sembari melihat mereka bertengkar aku menyantap 2 helai roti tawar yang sudah diolesi selai cokelat dengan tenang. Lalu aku menuangkan segelas susu dan meminumnya. Aku mengelap mulutku dengan selembar tisu yang berada tak jauh dari kawasanku.
                ‘’Aku berangkat ya?’’kataku sembari berlari lari kecil menuju pintu keluar.
                Aku tidak tertarik dengan opera sabun bergenre romance yang bercerita tentang suami istri mempunyai happy ending. Tetapi mempunyai bumbu comedy didalamnya. Merusak suasana, apakah nanti jika aku sudah berkeluarga juga seperti itu?
                Aku berjalan mendekati mobil hitam yang biasaanya mengantarkanku ke sekolah.
                ‘’Nona, mobil sudah siap’’kata Pak Tono sembari mempersilahkanku untuk masuk.
                ‘’Terimakasih, Pak Tono’’senyumku sembari memasuki mobil.
                ‘’Sama – sama, Nona’’senyumnya sembari menutup pintu mobil agak keras sehingga bisa tertutup rapat.
***
                Mobil hitam yang kunaiki kini sudah berhenti didepan sekolah yang sudah menerimaku dengan baik. Setelah 1 hari lamanya aku tidak bisa mengikuti pelajaran dan menyapa teman temanku, ada rasa kangen yang mendalam. Padahal hanya 1 hari, tetapi entah mengapa aku merasa kesepian. Untunglah hari ini penyakitku mulai menghilang.
                Pak Tono membukakan pintu seperti biasa yang ia lakukan dihari hari sebelumnya. ‘’Terimakasih, Pak Tono. Tetapi anda seharusnya tidak perlu repot repot membukakan pintu untukku. Aku bisa melakukannya sendiri’’Senyumku sembari keluar dari mobil.
                ‘’Tida apa – apa, Nona. Ini adalah tugasku sebagai sopir yang paling ganteng se-Indonesia’’kata Pak Tono dengan narsis.
                Aku tertawa kecil lalu melambaikan tangan ke Pak Tono dan berjalan menjauhi Pak Tono. ‘’Hati – hati, Nona!’’seru Pak Tono dari kejauhan.
                ‘Selalu’ kataku dalam hati.
***
                Aku membuka pintu kelas dan melangkahkan kakiku memasuki kelas. ‘’Selamat pagi semuanya’’senyumku.
                ‘’Pagii!!’’jawab anak anak perempuan yang berada dikelas saat itu.
                Aku berjalan menuju tempat duduk yang biasa aku duduki dan menaruh tas merahku diatas meja.  Lalu Jeniver dan Hera menghampiriku.
                ‘’Hey, Ririn. Kudengar kamu sakit ya kemarin? Kami kesepian lho disaat kamu nggak ada’’katanya sembari mencium tanganku. ‘’Aku merindukanmu’’katanya sembari menatap mataku.
                ‘’Hentikan perbuatanmu itu, Jeniver!’’kesalnya sembari berusaha memisahkan kami.
                ‘’Aku tidak melakukan kesalahan kok, aku hanya kangen!’’serunya.
                ‘’Ini namanya pelecehan!’’ bentak Hera.
                ‘’Haaa? Kita kan’ sama – sama perempuan, masa pelecehan sih!??’’kesal Jeniver.
                ‘’Nggak apa – apa, yang penting sekarang kita bisa kumpul kan’?’’senyumku.
                ‘’Hmph!’’
                ‘’Wuuuu weeeek’’
                Aku hanya tersenyum tipis lalu mengobrak abrik isi tas-ku. Buku... tempat pensil... dompet... handphone... tempat makanku dimana? Lho, ketinggalan ya???
                ‘’Ummm,  kalian bawa bekal nggak?’’
                ‘’Ririn lupa bawa bekal ya? Tenang, ada kantin! Kau juga melupakan dompet? Tenang kau masih bisa meminjam uang kepadaku’’kata Jeniver sembari mengusap kepalaku.
                ‘’Jika kau butuh sesuatu.. Aku masih bisa digunakan kok, tenang dompetku selalu padat penduduknya kok. Jadi jika kamu ingin meminjam uang mending ke aku saja. Karena dompet Jeniver belum tentu ada penduduknya’’tawa Hera.
                ‘’Hari ini aku bawa dompet kok! Isinya tebel juga!’’kesal Jeniver sembari mengeluarkan dompetnya lalu melihat isinya yang hanya ada selembar uang kertas bernilai 5 ribu rupiah. ‘’Hey, Hera. Aku pinjam uangmu lagi ya?’’pasrah Jeniver.
                ‘’Heee, katamu dompetmu tebel?’’sorak Hera.
                ‘’Aku lupa lagi minta uang jajan’’kata Jeniver sembari tertawa kecil.‘’Maaf ya, Ririn. Aku nggak bisa meminjamkanmu uang’’kata Jeniver dengan nada pasrah.
                ‘’Nggak apa – apa, aku bawa dompet kok’’kataku sembari menunjukkan dompetku yang bermerk ‘Milky Teddy’. ‘’Lihat!’’
                Jeniver dan Hera memerhatikan dompetku dengan seksama lalu membukanya bersama sama.
                ‘’Nggak tebel juga sih, hanya ada duit 100 rb saja disini. Dan kartu pelajar. ‘’kata Hera sembari membetulkan kacamatanya.
                Jeniver berperilaku seperti kucing yang menemukan mainan baru. Ia membokar semua isi dompetku. Lalu ia menemukan kartu namaku.
                ‘’Hey, Ririn. Kau mau bertukar kartu nama tidak?’’tanya Jeniver.
                ‘’Tentu’’kataku menyanggupi.
                ‘’Asiiik’’soraknya dengan gembira.
                ‘’Hey, aku juga ya?’’kata Hera sembari menyerahkan kartu nama yang mengkilap.
                ‘’Ingat, ini dari cewek paling ganteng di sekolah  ini, k (ok) ?’’kata Jeniver sembari menyerahkan kartu nama-nya dan setangkai mawar merah.
                ‘’Terima kasih’’senyumku.
                Kebahagiaan yang kurasakan saat ini, tidak akan berakhir kan’?
***
                Bel istirahat sudah berbunyi. Seperti biasa anak anak perempuan yang berada dikelas berjalan keluar termasuk aku, Jeniver dan Hera. Kami berjalan menuju kantin untuk menyantap makan siang bersama.
                Sesampainya di kantin sekolah yang selalu penuh akan anak – anak perempuan dan guru – guru yang berfikiran sama dengan kami. Mereka membuat antrian panjang hingga ujung antrian-nya berada di pintu masuk kantin sekolah.
                ‘’Ugh, kita telat!’’kesal Jeniver.
                ‘’Yaudah Jeniver dan aku akan mengantri, dan Ririn mencari tempat duduk ya? Kami akan memesankan makanan paling enak yang ada di kantin’’kata Hera sembari mendorongku keluar dari barisan dengan pelan.
                ‘’Kalo begitu, ini uang....’’
                ‘’Aku yang traktir, tenang. Si ‘bodoh’  ini juga akan kutraktir kok’’katanya sembari memukul kepala Jeniver pelan.
                ‘’Siapa yang kau bilang bodoh!??’’kesal Jeniver.
                ‘’Ka-Mu’’
                ‘’UGHHH’’kesal Jeniver. ‘’Hmph’’
                ‘’Yaudah gih sana, cari tempat yang enak ya’’kata Hera.
                Aku mengangguk – ngangguk lalu berlari lari kecil mencari tempat duduk. Memang belum semua tempat duduk terisi penuh, tetapi ada satu meja panjang yang ditempati oleh perempuan berambut panjang yang duduk disana. Aku memutuskan untuk duduk disebelahnya.
                ‘’Apakah kamu nggak keberatan jika duduk disebelahmu?’’senyumku.
                ‘’Boleh saja asal kau mau tanggung akibatnya’’jawabnya dengan muka datar.
                ‘’Terimakasih’’senyumku sembari duduk disebelahnya. ‘’Namaku Roselia Puririn, kamu bisa memanggilku Ririn. Namamu siapa?’’tanyaku sembari menjulurkan tangan kananku.
                ‘’Panggil saja aku Karin’’katanya.
                ‘Ia tidak menjabat tanganku’ aku terus memandangi tangan kananku menunggu respon darinya. Setelah lama menunggu aku menurunkan tangan kananku.
                ‘’Temanmu mana?’’tanyaku lagi
                ‘’Tak punya’’
                ‘’Boleh aku jadi temanmu?’’
                ‘’Seterah’’
                ‘’Sekarang kita teman?’’
                ‘’Mungkin’’
                ‘’Kau hanya makan itu saja?’’
                ‘’Kenapa?’’
                ‘’Tidak apa apa’’
                ‘’Apakah kau selalu seperti ini?’’
                ‘’Diam!’’bentaknya.
                Bentakkannya membuatku terdiam sangat lama sampai aku mendengar suara Jeniver dan Hera yang mencariku. Aku melambai  lambaikan tangan, ‘’Disini!’’
                ‘’Eee, tumben ini sepi...’’kaget Jeniver.
                Ketika mereka berdua melihat Karin tampang wajahnya langsung berubah  lalu Hera menarikku untuk menjauhinya. Akhirnya kami berhenti di meja panjang paling ujung dekat dengan jendela besar disampang kakak kakak kelas 3.
                ‘’Apa yang kamu lakukan?’’ tanya Hera.               
                ‘’Apanya?’’tanyaku.
                ‘’Apakah kamu tidak tahu siapa ‘Karin’ itu?’’tanya Jeniver.
                ‘’Siapa?’’tanyaku lagi
                Hera lalu dengan cepat mengambil note kecilnya lalu menulisnya dengan cepat. Lalu ia berikan padaku.
                ‘’Ssst!’’
                Aku makin penasaran dengan tingkah laku mereka yang panik setelah aku mendekati anak perempuan yang bernama ‘Karin’ tadi. Lalu aku memutuskan untuk membaca apa yang Hera tulis untukku.
                ‘Karin adalah anak perempuan dari sekolah ini yang sudah jadi sasaran bully sejak kelas 1, jadi jika kamu tidak mau menjadi sasaran selanjutnya, lebih baik mulai sekarang jauhi dia. Dan jangan dekati dia lagi!’
                Ternyata dibalik kententeraman dan keceriaan sekolah ini masih ada serpihan kesengsaraan?
***
                 Bel pulang menandakan pelajaran sekolah sudah berakhir, murid – murid, staf, dan guru dipersilahkan pulang kerumahnya masing masing. Tetapi untuk pertama kalinya aku nekad berkeliling sekolah sendirian.
                Sekolah ini mempunyai gedung lama yang masih berdiri kokoh tetapi sudah sedikit rapuh karena dimakan usia. Terdengar suara suara gertakan dari dalam gedung sekolah yang lama. Membuatku semakin penasaran dan memasuki gedung yang dibilang angker tersebut.
                Aku mengikuti suara gertakan tersebut hingga membuatku berhenti didepan sebuah ruangan. Pintunya sudah berlubang karena dimakan rayap, membuatku bisa melihat kejadian yang menimbulkan suara gertakan – gertakan yang aku dengar. Ini adalah penyiksaan.
                Aku bisa melihat Karin yang disiksa dan dibentak oleh anak kelas 3 dan beberapa dari kelas 2. Air mataku menetes melewati pipi. Aku ingin menghentikannya tetapi aku takut. Aku harus menghentikan semua kekonyolan ini!
                ‘’HENTIKAN!’’bentakku sembari melindungi Karin.
                ‘’Minggirlah, kau ingin kuhajar juga hah??’’bentak salah satu anak kelas 3.
                ‘’Apakah kalian nggak punya hati? Apakah kalian tidak pernah tau perasaan Karin ketika kalian bully? Mengertilah sedikit!!’’bentakku.
                Seisi ruangan itu hening untuk beberapa menit. ‘’Kami mengerti, kami tahu perasaan Karin’’kata salah satu anak kelas 3 yang berkepang 2.
                ‘’Syukurlah jika kalian mengerti’’senyumku.
                ‘’Hey Karin masa penyiksaanmu sudah berakhir... Sebagai gantinya siksa anak ini sesakit yang kamu mau sebagai permulaan’’senyumnya.
                ‘’!’’ aku menatap mata karin yang berubah bengis dan aku mulai menyadari aku sudah menjadi korban baru mereka. ‘’Kenapa?’’
                ‘’Salahmu sendiri, bodoh. Jangan sok ikut campur jika tidak tahu apa – apa. Seharusnya kau tidak perlu melakukannya, dasar BODOH!’’tawanya sembari menendang perutku hingga aku mengeluarkan percikan darah. ‘’Hey teman – teman, ayo saatnya kita untuk membuang ‘sampah’  keluar dari istana kita’’kata Karin mengajak anak – anak perempuan yang terus tersenyum menikmatinya.
                Tubuhku diangkat oleh mereka lalu dilempar dari lantai 3 kebawah. Untunglah Tuhan masih melindungiku. Tubuhku menimpa tanaman yang tumbuh secara lebat sehingga tidak menimbulkan rasa sakit.
                ‘’Cih, meleset’’tawa Karin dari lantai 3. ‘’Kali ini kami biarkan kamu kabur, tapi lain kali kami akan membuatmu mampus! Bye bye Ririn’’senyumnya sembari meninggalkan jendela.
                Aku takut, sangat ketakutan. Pembulian ini lebih buruk daripada yang sebelumnya. Seharusnya aku mendengarkan kata – kata Hera. Kenapa?
                Aku segera bangkit dan berlari sekencang mungkin menuju gerbang sekolah. Mobil hitam dan Pak Tono terlihat sudah lama menunggu.  ‘’Astaga, aku lupa melihat handphone-ku’’kataku sembari mencari cari handphone yang berada di dalam tas merah-ku.  ‘’Pukul 5??’’panikku. ‘’My mother will mad at me!’’kataku sembari berlari menuju mobil hitam yang setia menungguku, dan Pak Tono yang terus berusaha untuk menghubungiku.
                ‘’Lho Non, baju-nya kok kotor!??’’tanya Pak Tono.
                ‘’Tadi...’’Aku berusaha untuk mencari alasan agar ia tak khawatir. ‘’Tadi aku habis jatuh, hahaha’’kataku sembari tertawa kecil.
                Pak Tono menggeleng gelengkan kepala. ‘’Ada ada saja, Non. Yaudah kalo begitu, kita pulang ya?’’kata Pak Tono sembari mempersilahkanku masuk ke dalam mobil.
***
                 Keesokan harinya, aku sudah siap dengan resiko yang akan ku dapat. Asalkan aku punya Jeniver, Hera, keluargaku, dan Tuhan, aku akan baik baik saja. Aku melangkah menyusuri lorong sekolah dengan percaya diri. Aku mulai dijauhi oleh orang -  orang, jika aku mendekati mereka, mereka menjauhiku. Aku benar benar merasa seperti sampah.
                Aku melihat murid – murid perempuan berdesak desak untuk melihat berita hangat yang biasanya baru dipasang pagi hari tadi. Aku merasa penasaran dan menyusup menyusuri krumunan tersebut. Terpasang berita yang menyatakan bahwa sekarang yang menjadi sasaran adalah aku.
                Aku berjalan mundur dan berlari sekencang mungkin menuju memasuki kelas. ‘’Selamat pagi semuanya’’sapaku. Mereka sibuk dengan kegiatannya sendiri sendiri.
                Aku menuju tempat dudukku yang sudah penuh dengan coretan dan sampah. Aku membersihkannya dan manaruh tas merahku diatas meja. Aku bingung mengapa Jeniver dan Hera tidak mendatangiku seperti biasa. Sebagai gantinya aku berjalan mendekati mereka, ‘’Pagi’’.
                Aku menunggu reaksi Jeniver dan Hera tetapi mereka hanya diam lalu berjalan menjauh meninggalkanku. Aku duduk kembali ke tempat dudukku sembari tidak percaya bahwa mereka juga meninggalkanku. Tak kusadari bahwa kelas yang aku tempati saat itu hanya ada aku yang terus terdiam dan terus berharap ini hanya mimpi.
                Aku sudah melakukan sesuatu yang membuatku kembali tersiksa.
***
                Bel istirahat sudah berbunyi. Teman – temanku semuanya meninggalkan-ku sendiri didalam kelas, termasuk Jeniver dan Hera yang sudah kuanggap sebagai keluargaku  sendiri. Tak kusangka mereka setega ini.
Untuk pertama kalinya aku melalui jam makan siang sendiri. Aku terus menepati tempat dudukku dengan pandangan kosong sembari menyantap makanan yang berada di kotak bekal yang biasa menemaniku saat aku lapar. Aku terus menjaga tempat dudukku agar tidak diapa apakan oleh teman - temanku. Aku benar benar menderita.
Aku akan melewati hari hariku dengan penderitaan, mulai hari ini.
***
Tak terasa sudah 1 bulan sejak kejadian tersebut. Hari sekolahku sudah memasuki bulan Mei. Aku mulai terbiasa disiksa oleh mereka, ditendang, dilempar, dan berbagai hal menyakitkan lagi. Aku sudah menjadi satu satunya anak yang menderita di sekolah ini.
Setelah pulang sekolah aku biasanya disiksa lebih kejam daripada yang biasanya. Aku jadi lebih sering pulang malam karena mereka. Nilai nilaiku menurun karena mereka. Aku menderita karena mereka. Tetapi semuanya dimulai karena kebodohanku. Aku yakin orangtuaku akan khawatir dan kecewa terhadapku. Maafkan aku yang hanya bisa meratapi nasib.
Aku menduduki tempat duduk yang biasanya diduduki Karin disaat ia menjadi sasaran. Tidak ada yang mendekatiku karena sudah tahu akan resikonya jika ia melanggar. Guru – guru disini juga, ia tidak berani menuntaskannya karena ini sudah menjadi tradisi turun menurun. Guru – guru sudah angkat tangan.
Tiba tiba handphone-ku berbunyi menandakan ada pesan masuk. Aku membuka handphone-ku untuk bisa melihat apa isinya.
‘To : Ririn
Maafkan kami yang hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Maafkan kesalahan kami selama sebulan ini. Maafkan kami yang sudah lari karena tak mau mendapat kesengsaraan. Mungkin Ririn sudah tak mau memaafkan kami. Kami akan memberitahumu cara keluar dari penderitaanmu. Caranya adalah dengan melawan mereka sekaligus!
From your best friend : Jeniver and Hera.’
‘Melawan mereka ya? Hal yang paling menyenangkan yang ingin ku lakukan saat ini’ pikirku sembari melihat kedatangan Karin dan yang lainnya. Game On! Aku tidak akan mundur!
‘’Hahahaha, sepertinya kau sudah terbiasa sengsara ya?’’tawa Karin dan teman – temannya.
‘’Tak kusangka kalian berani menyiksa orang didepan guru guru’’kataku datar.
‘’Tak  kusangka kebodohanmu inilah yang membuatmu jadi begini’’ katanya sembari mendorongku hingga jatuh. ‘’Heh, belikan makanan sono! SEKARANG’’bentak Karin.
‘’Punya kaki kan’ punya tangan kan’? Beli aja sendiri! ‘’tolakku.
‘’SONOO BELII!! KALO DISURUH BELI YA BELI!! PUNYA OTAKKAN’? KAMU TUH LAGI JADI SASARAN KAMI. JADI MENDING NURUT!’’bentak salah satu dari mereka.
‘’Hell to the lo, kamu siapa? Ketua? Wakil? BUKAN KAN’?? Pengikut aja bangga. Hmpph jangan bikin aku ketawa deh’’sorakku.
‘’Bosen hidup?’’kesal anak perempuan berambut merah.
‘’Bisa jadi, yayayayayay, TIDAK TIDAK TIDAK. BISA JADI BISA JADII. GOOOALL’’sorakku.
‘’Lo bener bener nyari mati ya? Cepetan, daripada kena Fenthung, nangis deh’’tawa salah satu dari mereka yang beramput pirang.
‘’Diem! Dasar curut. Pengikut aja bangga’’
‘’Heh, kamu nggak tahu ya klo kamu itu ada di posisi ‘SA-SA-RAN’ ‘’kata Karin sembari menjabambak rambutku.
‘’Karin... Kamu ini juga pengikut kan’? Yang sok – sok-an jadi ketua? Padahal mantan sasaran tapi belagu. OMG Aku kasian sama kamu, baru bisa ngerasain rasanya nyiksa orang’’tawaku.
Karin yang saat itu benar benar marah lalu menghajarku dengan keras.
‘’Ayo, LAGI!! LAGII!! CUMA SEGITU KEKUATANMU??’’kataku sembari menahan sakit.’’udah? Klo gitu gilaranku’’kataku sembari menghajar Karin dengan beberapa kali tonjokkan. ‘’Eeee, masa gitu doang langsung lemes? GAK ASIK!’’kataku sembari melempar Karin hingga membuat ricuh keadaan.
‘’Kamu bener bener pengen mati ya?’’kata seorang perempuan yang diduga adalah ketua.
‘’Klo iya kenapa? Aku dah pasrah, mau diapain juga kehidupanku bakal gini gini juga. Oh iya asal kamu tahu aja ya, kamu gak pantes jadi ketua pembulian kalo kamu. UGHHH KAMSEUPAAY, IEUUUUH’’kataku sembari mendorongnya hingga jatuh.  ‘’ OMG, kamu ketua kan’? Masa gitu doang langsung jatuh, OMGGG gak jaman banget kale. Ketua tapi digituin doang jatoh. OH MY GOD OH MY WOW’’sorakku.
Anak perempuan yang berbadan besar menghajarku hingga membuatku terpental. ‘’Kamu bakal MATI disini’’katanya.
‘’Hohoho, aku siap mati kapan saja. Kekuatanmu itu gak sebanding dengan apa yang kalian padaku. Jadi pada intinya aku dah tahan ‘’kataku sembari mengelap darahku.  Aku menggerak gerakkan kepalaku dan memutarnya. ‘’Hmmm, sekarang aku akan melawan seekor gajah. Aiih gampangnya’’
Anak perempuan itu makin murka lalu berlari mengarahku, aku yakin ia tak bisa memberhentikan langkahnya sehingga aku hanya perlu menggeserkan tubuhku. Aku melihat anak perempuan yang berbadan besar itu melukai dirinya sendiri. ‘’Whoops, salah sasaran ya? Cup cup... Kasiaan’’senyumku.
                Pada akhinya aku dihajar ramai ramai oleh mereka.  Tetapi aku tidak akan mundur lagi, aku tidak akan menuruti perkataan mereka. Aku akan segera mengakhiri tradisi bodoh ini dan membuat sekolah ini lebih menyenangkan. Aku pindah kesini untuk mendapatkan teman bukan penghinaan.
                Tidak kusangka aku hanya perlu merunduk untuk membuat mereka saling menghajar satu sama lain. Lalu aku keluar melewati sela sela selangkangan kaki kaki mereka.
                Aku menggeleng gelengkan kepala dan menahan tawa. ‘’Siapa yang bodoh sekarang, dasar BO-DOH!’’sorakku.
                Anak – anak bodoh itu mulai menyadari bahwa mereka bukan menghajarku tetapi menghajar  satu sama lain. Aku menahan tawa yang melihat mereka dengan wajah yang bonyok dan biru. Mereka lalu menatapku tajam, sebagian ada yang pingsan karena tidak tahan oleh sakitnya. ‘’Gimana? Sakit? Apa yang kau rasakan sekarang tak sebanding dengan anak yang  menjadi ‘sasaran’. HAHAHAHAHAHA melakukan sesuatu tanpa tahu resiko, dasar BO-DOH!’’sorakku. ‘’AYO SEMUA-NYA TERTAWA, INI ADALAH BAHAN LELUCON YANG PANTAS UNTUK DITERTAWAKAN!’’perintahku sembari mengangkat tanganku naik turun untuk memandu seisi ruangan untuk menertawakan mereka.
                Anak – anak bodoh tersebut menutupi telinga mereka dan menangis bersamaan. Mereka sepertinya sudah merasakan rasanya menjadi sasaran.
                ‘’Maafkan kami’’isak salah satu dari mereka.
                ‘’Eeh? Maafkan kalian? Setelah apa yang kalian lakukan padaku? OMG Ngimpi apa aku barusaan’’tawaku. ‘’Ya kaan...’’ Aku melihat sekeliling ruangan. Aku melihat Madam Carlos yang menggeleng gelengkan kepala dengan raut wajah ingin menangis.
                Aku menyadari bahwa orang yang membalas dendam itu lebih rendah dari sampah. Oh Tuhan, apa yang kuperbuat? Maafkan aku! Tuhan, sekarang apa yang akan kulakukan??
                Aku berjalan mendekati mereka sembari menginstruksikan seisi ruangan untuk diam. ‘’Apa jaminannya jika aku memaafkan kalian?’’tanyaku.
                ‘’Kami akan pindah sekolah’’
                ‘’Ditolak’’
                ‘’Kami akan membiarkan kalian memasukkan kami semua ke tempat sampah’’
                Aku menggeleng gelengkan kepala.
                ‘’Aku hanya mau mendengar sebuah janji dari mulut kalian sendiri. Janji untuk tidak membully lagi’’kataku.
                Mereka menatap satu sama lain dan menelan ludah.
                ‘’Kami berjanji untuk tidak membully lagi’’kata mereka dengan terpaksa.
                ‘’Ingat Tuhan itu ada, jika kalian melanggarnya mungkin kalian akan mendapatkan yang lebih parah dari ini’’
                ‘’Ugh’’
                ‘’Kalian kumaafkan’’senyumku.
                Seisi ruangan bertepuk tangan dengan senyuman lebar dimuka masing masing termasuk Madam Carlos yang menyeka air matanya dengan sapu tangannya.
                Ternyata benar, bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian untuk hambanya yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Terimakasih karena telah membuatku jadi lebih kuat lagi dari sebelumnya, terimakasih telah memberiku ujian yang membuatku sadar untuk tidak mundur ditengah pertempuran. Sekali lagi terima kasih Tuhan.
                ‘’Terimakasih telah mengakhiri tradisi turun menurun ini, Ririn’’senyum Madam Carlos sembari menjabat tanganku.
                ‘’Maafkan kami Ririn!!’’sorak Jeniver dan Hera.
                ‘’Tidak apa – apa, kalian tidak salah kok. Ini kesalahanku’’senyumku
                ‘’Kau memang teman kita yang terbaik!’’kata Jeniver sembari mengecup pipiku lembut.
                ‘’Aaiih, aku ini masih normal, ok? Aku perlu ke UKS, maukah kalian menemaniku?’’mohonku.
                ‘’Apapun!’’sorak Hera sembari memelukku.
                ‘’Aku anggap ini semua adalah kecupan dan pelukan antar sahabat ok?’’
                ‘’Eeeh, jadi kecupanku yang penuh cinta ini hanya sebatas sahabat?’’kata Jeniver dengan nada kecewa.
                ‘’Kalian ini masih normal kan’?’’kata Madam Carlos sembari memukul kepala kami dengan pelan. ‘’Lalu bagaimana ini?’’tanyanya sembari menatapi anak – anak yang terluka.
                ‘’Aih, aku harus mengeluarkan tenaga lagi untuk menggopong mereka’’kataku sembari menggerakkan pundakku yang mengeluarkan bunyi.
                ‘’Tidak, kita harus memanggil ambulance’’kata Madam Carlos sembari mengeluarkan telepon genggamnya.
                ‘’Eee, nanti aku yang disalahin lagi’’ kataku.
                ‘’Bilang saja ini kesalahan mereka sendiri <3’’santai Madam Carlos.
                Lalu kami tertawa bersama – sama.
                *Ini disebut tertawa di penderitaan orang lain :v, jangan ditiru karena terlalu berbahaya J Jangan tiru TS :v
Happy End <3 <3 <3 <3
Ceritanya gaje njir :v :v :v
               

  


   

Rehat

Bagi yang ngga tau, gue ngebuat komik di webtoon dengan judul 'cliche'. Komik tersebut sudah gue ulang sebanyak 3x dengan viewer yan...